Rangkaian survei nasional terbaru dari berbagai lembaga riset memperlihatkan dinamika penilaian masyarakat terhadap kinerja kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Meski tingkat kepuasan terhadap Presiden Prabowo secara umum masih dominan positif di beberapa rilis, pandangan publik tampak terbelah dengan catatan evaluasi yang cukup ketat terhadap Wakil Presiden Gibran maupun jalannya roda pemerintahan secara keseluruhan.
Survei Indonesia Political Opinion (IPO) periode 12–20 Oktober 2026 mencatat kepuasan terhadap Presiden Prabowo mencapai 66% (sangat puas 5% dan puas 61%), berbanding 34% yang tidak puas. Namun, angka tersebut berbanding terbalik dengan evaluasi Wapres Gibran, di mana tingkat ketidakpuasan publik menembus 71% (tidak puas 53% dan sangat tidak puas 18%), sementara yang menyatakan puas hanya 19% dan sangat puas nihil (0%).
Pola serupa terlihat pada temuan Arus Survei Indonesia tertanggal 23–29 Juli 2026. Kepuasan publik kepada Presiden Prabowo tercatat berada di level 57,6% (sangat puas 9% dan cukup puas 48,6%), sementara ketidakpuasan mencapai 40,6%. Sebaliknya, persepsi terhadap kinerja Wapres Gibran didominasi rasa tidak puas sebesar 54,4% (kurang puas 39,7% dan sangat tidak puas 14,7%), sedangkan yang merasa puas berada di angka 40,1%.
Adapun pada riset Celios melalui skala penilaian rapor 1–10, persepsi publik terhadap kedua tokoh cenderung berada di level menengah ke bawah. Prabowo memperoleh skor rata-rata 4,6 dari 10, dengan 48% responden memberi nilai rendah (skor 1–4), 23% nilai sedang (skor 5–6), dan 28% nilai baik hingga sangat baik (skor 7–10). Sementara itu, Gibran membukukan skor rata-rata 4,9 dari 10, dengan porsi nilai rendah 45%, nilai sedang 21%, dan nilai baik hingga sangat baik sebesar 34%.
Secara institusional, evaluasi terhadap kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran menghasilkan tren yang cukup ketat. Survei Poltracking Indonesia (30 September–7 Oktober 2026) mencatat kepuasan pemerintah berada di angka 55,3%, ditopang alasan bantuan pemerintah tepat sasaran (16,5%) dan program Makan Bergizi Gratis/MBG (15,0%). Namun, sebanyak 40,9% publik menyatakan tidak puas akibat kondisi ekonomi belum stabil (18,9%), harga kebutuhan pokok mahal (15,4%), serta bantuan tidak tepat sasaran (14,3%), dengan tren kepuasan yang relatif stagnan sejak Agustus hingga Oktober 2026. Hasil ini sejalan dengan temuan Median (21 Juli–2 Agustus 2026) yang merekam kepuasan pemerintahan sebesar 56,2% dan ketidakpuasan 36%.
Di sisi lain, penilaian khusus terhadap kinerja Prabowo menunjukkan kontras antara dua lembaga survei lainnya. Parameter Politik Indonesia (PPI) dalam survei 26 September–6 Oktober 2026 merekam kepuasan tinggi terhadap Prabowo hingga 65,2% (puas 62,3% dan sangat puas 2,9%). Sebaliknya, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) periode 1–10 Oktober 2026 justru mendapati ketidakpuasan terhadap kinerja Prabowo lebih dominan di angka 53,4% (kurang puas 39,1% dan tidak puas sama sekali 14,3%), melampaui kelompok yang merasa puas di angka 44,5% (cukup puas 40,1% dan sangat puas 4,4%).