Dua tahun perjalanan roda pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mendapat catatan kritis dari publik. Temuan survei terbaru Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menunjukkan rapor kepemimpinan keduanya berada di bawah angka rata-rata, dengan sentimen negatif yang cukup mendominasi dari masyarakat umum hingga kalangan pakar.
Dalam skala penilaian 1 hingga 10, kinerja Presiden Prabowo Subianto dalam memimpin negara hanya memperoleh skor rata-rata 4,6 dari publik. Tren ketidakpuasan terlihat nyata ketika nilai 1 menjadi pilihan paling dominan yang dilayangkan oleh 23% responden. Secara akumulatif, hampir separuh masyarakat atau sebesar 48% menempatkan kepemimpinan Prabowo di kategori rendah (skor 1–4). Hanya 23% publik yang menilai kinerjanya di tingkat cukup (skor 5–6), dan 28% lainnya menganggapnya berkinerja baik hingga sangat baik (skor 7–10).
Di sisi lain, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka membukukan torehan angka yang sedikit lebih unggul dari Prabowo, kendati tetap belum menembus kategori memuaskan. Gibran mencatatkan skor rata-rata 4,9 dari masyarakat umum. Sebanyak 45% responden memberi rapor rendah (skor 1–4) atas pelaksanaan fungsi konstitusional sang wapres, dengan nilai 1 tetap menjadi sentimen terkuat sebesar 20%. Meski demikian, basis kepuasan publik terhadap Gibran tercatat lebih tinggi dibanding Prabowo; sebanyak 34% masyarakat menilai kerjanya baik hingga sangat baik, sementara 21% sisanya berada di level cukup.
Jika masyarakat umum masih menyisakan ruang apresiasi, penilaian dari kelompok ahli justru menorehkan angka yang jauh lebih suram. Masih berdasarkan laporan CELIOS, kalangan pakar memberikan evaluasi sangat ketat terhadap jalannya pemerintahan. Rapor kepemimpinan Prabowo di mata para ahli merosot hingga ke angka 2,8. Kondisi lebih terjal dihadapi oleh Gibran, yang hanya mengantongi skor 2,2 dari para pakar.
Kajian data ini dihimpun secara simultan sepanjang 15 September hingga 9 Oktober 2026. Penjaringan opini publik dilakukan terhadap 1.142 responden yang tersebar di berbagai provinsi melalui sebaran digital terukur dengan penyesuaian bobot populasi. Di saat bersamaan, riset ini melibatkan panel ahli lintas bidang untuk menggali penilaian berbasis kompetensi dan kepakaran.