Indonesia Political Opinion (IPO) merilis hasil survei nasional terkait elektabilitas partai politik serta persoalan publik yang dinilai paling mendesak untuk diselesaikan pemerintah. Hasilnya, Partai Gerindra berada di posisi puncak elektabilitas, sementara pengendalian harga bahan pokok menjadi prioritas utama masyarakat.
Pada peta elektabilitas, Partai Gerindra memimpin dengan perolehan 23,1%. Posisi kedua ditempati PDI Perjuangan sebesar 11,6%, disusul Partai Golkar di peringkat ketiga dengan 10,7%. Di papan tengah, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mengantongi 6,1%, Partai Demokrat 5,9%, Partai Amanat Nasional (PAN) 5,8%, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 4,6%, serta Partai NasDem 4,2%.
Sementara itu, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) meraih 2,9%, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 1,6%, Partai Gerakan Rakyat 0,9%, Partai Gelora 0,8%, dan Partai Hanura 0,2%. Partai Perindo, Partai Ummat, Partai Buruh, Partai Kebangkitan Nusantara (PKN), dan Partai Garuda sama-sama mencatatkan angka 0%. Adapun responden yang belum menentukan pilihan, tidak menjawab, atau merahasiakan pilihannya mencapai 21,6%.
Terkait persoalan mendesak, survei yang melibatkan 1.200 responden ini menempatkan pengendalian harga bahan pokok di urutan teratas dengan 28%. Persoalan berikutnya meliputi pemberantasan korupsi (19,5%), pembukaan lapangan kerja dan penanganan pengangguran (14,7%), pengentasan kemiskinan (10%), serta penanganan ketertiban, keamanan, dan premanisme (2,9%).
Sejumlah persoalan lain tercatat dengan persentase lebih rendah. Isu kesejahteraan petani dan nelayan, pembangunan infrastruktur jalan, serta pendidikan gratis dan berkualitas masing-masing memperoleh 2,5%. Isu kesejahteraan buruh atau kenaikan upah minimum serta bantuan modal usaha UMKM masing-masing mencatat 1%. Penanganan bencana alam dan pengurangan tenaga kerja asing masing-masing berada di angka 0,8%. Sementara itu, isu perbaikan moral dan etika, layanan kesehatan, pengurangan utang luar negeri, serta kebebasan berpendapat masing-masing meraih 0,5%, disusul toleransi antarumat beragama sebesar 0,3%.