Di panggung politik global, jabatan sering kali dipandang sebagai prestise. Namun, bagi segelintir pemimpin, jabatan adalah beban tanggung jawab yang berat. Fenomena pengunduran diri pejabat publik akibat merasa gagal menjalankan tugas atau yang sering disebut sebagai “budaya malu” menjadi bukti bahwa integritas moral terkadang masih ditempatkan di atas kekuasaan.
Sejarah mencatat beberapa tokoh di Indonesia yang berani melepaskan jabatannya demi prinsip. Pada 2015, Sigit Priadi Pramudito dan Djoko Sasono mundur karena merasa gagal mencapai target kerja, baik dalam penerimaan negara maupun manajemen arus mudik. Transisi menuju tahun 2025 dan 2026 membawa babak baru; pengakuan Satryo Soemantri Brodjonegoro yang merasa kinerjanya belum optimal, hingga pengunduran diri massal pimpinan BEI dan OJK pada Januari 2026. Mundurnya tokoh-tokoh seperti Iman Rachman dan Mahendra Siregar menjadi langkah drastis untuk memulihkan kepercayaan investor di tengah gejolak pasar modal yang hebat.
Sementara, dii luar negeri, alasan pengunduran diri sering kali dipicu oleh krisis spesifik yang berdampak langsung pada rakyat. Di Korea Selatan, Choi Joong-kyung mundur karena pemadaman listrik massal, sementara di Jepang, Yoshihide Suga harus merelakan kursinya setelah dinilai gagal mengendalikan lonjakan kasus COVID-19 pasca-Olimpiade Tokyo. Di Inggris, Liz Truss mencatat sejarah pengunduran diri tercepat setelah kebijakan ekonominya justru mengguncang stabilitas pasar keuangan.
Langkah-langkah pengunduran diri ini, baik di Asia, Australia, maupun Eropa, mengirimkan pesan yang sama: bahwa kepemimpinan bukan hanya soal memegang kendali, tetapi juga soal keberanian untuk mengakui kegagalan ketika amanah tidak lagi berjalan sesuai harapan publik.
Daftar Pejabat Negara di Berbagai Negara yang Mengundurkan Diri Usai Gagal Menjalankan Tugas
| Negara | Waktu Pengunduran | Nama Pejabat Negara | Posisi | Alasan Mundur |
| Korea Selatan | 2011 | Choi Joong-kyung | Menteri Ekonomi | Gagal melakukan persiapan yang memadai dalam menghadapi lonjakan permintaan listrik, sehingga terjadi pemadaman selama beberapa jam di berbagai wilayah Korea Selatan yang berdampak pada ratusan ribu rumah tangga. |
| Malaysia | 2020 | Mahathir Mohamad | Perdana Menteri | Gagal menjaga stabilitas politik setelah koalisi pemerintah runtuh dan dukungan mayoritas di parlemen hilang, sehingga pemerintahan tidak lagi efektif. |
| Australia | 2020 | Jenny Mikakos | Menteri Kesehatan Negara Bagian Victoria | Tekanan politik dan merosotnya kepercayaan publik akibat kegagalan kebijakan skema karantina hotel Covid-19 yang memicu gelombang kedua pandemi di Victoria. |
| Jepang | 2021 | Yoshihide Suga | Perdana Menteri | Yoshihide Suga memutuskan mundur setelah ia dinilai gagal mengendalikan lonjakan kasus COVID-19, yang diperburuk oleh merosotnya kepuasan publik pasca keputusannya untuk tetap menyelenggarakan Olimpiade Tokyo di tengah pandemi. |
| Inggris | 2022 | Liz Truss | Perdana Menteri | Kebijakan pemotongan pajak yang dia ajukan gagal dan justru mengguncang pasar keuangan serta memicu pemberontakan di internal Partai Konservatif yang dipimpinnya. |