Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mengeluarkan laporan bertajuk ‘Labor Market Brief’ pada Juli 2026. Dalam laporan tersebut, terungkap ada 5 jurusan yang menjadi penyumbang angka pengangguran terbanyak di Tanah Air.
Pertama adalah lulusan Manajemen yang proporsinya mencapai 10,3% dari total sarjana yang belum bekerja. Posisi berikutnya disusul oleh lulusan Hukum sebesar 9,0%, Ekonomi 8,7%, Pendidikan 7,1%, dan Akuntansi 5,1%. Secara keseluruhan, akumulasi dari lima bidang studi ini saja sudah menyumbang sekitar 40% dari total pengangguran berpendidikan S1.
Pada tahun 2025, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) untuk penduduk berpendidikan minimal S1 secara nasional berkisar antara 1,79% hingga 7,85%. Dalam laporannya, LPEM FEB UI mendeteksi bahwa perbedaan ini menunjukkan bahwa peluang lulusan perguruan tinggi untuk mendapatkan pekerjaan sangat bergantung pada kondisi pasar kerja di setiap daerah.
Provinsi Maluku mencatatkan TPT sarjana tertinggi di Indonesia, yaitu sebesar 7,85%. Angka tinggi ini disusul oleh Sulawesi Utara (7,52%), Sumatera Barat (7,47%), Kepulauan Bangka Belitung (7,47%), Sumatera Utara (6,66%), dan Papua (6,60%). Di daerah-daerah tersebut, lebih dari 6 dari setiap 100 orang lulusan S1 yang masuk dalam angkatan kerja masih berstatus menganggur.
Menariknya, persoalan ini tidak hanya bertumpu pada daerah dengan roda ekonomi yang terbatas. Di DKI Jakarta sebagai pusat ekonomi nasional dengan lapangan kerja besar, TPT lulusan minimal S1 justru mencapai 5,91%, melebihi rata-rata nasional yang berada di angka 5,39%.
Kondisi tersebut dipicu oleh ketatnya persaingan pasar kerja di daerah perkotaan. Meskipun kota-kota besar membuka banyak lowongan kerja profesional, ketersediaan tersebut belum sebanding dengan gelombang lulusan lokal dan pendatang berpendidikan tinggi yang terus berdatangan untuk berburu pekerjaan.