Pemerintah terus mematangkan kesiapan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tahun 2026 melalui pendataan komprehensif di berbagai jenjang pendidikan. Berdasarkan basis data terbaru dari dashboard MBG per 9 Juni 2026, program ini akan menjangkau total 4,5 juta siswa sebagai penerima manfaat yang tersebar di 22.762 satuan pendidikan. Dari total lembaga tersebut, sebaran sekolah negeri masih mendominasi dengan jumlah 12.670 satuan pendidikan, sementara sekolah swasta tercatat sebanyak 10.092 satuan pendidikan. Jenjang Sekolah Dasar (SD) menjadi klaster terbesar dengan 10.120 sekolah dan melayani 2 juta siswa penerima manfaat.
Melansir Berita Satu (9/6), momentum penguatan program ini berjalan beriringan dengan aspek struktural di tingkat pusat. Nanik S Deyang resmi menjabat sebagai kepala Badan Gizi Nasional (BGN) setelah dilantik Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, pada Senin (8/6). Ia menggantikan Dadan Hindayana berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 18/M Tahun 2026 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Kepala dan Wakil Kepala BGN serta pemberhentian Wakil Kepala BPKP. Langkah penyegaran ini diproyeksikan akan membawa arah baru dalam manajemen pemenuhan gizi nasional.
Fokus utama kepemimpinan Nanik adalah melakukan refocusing terhadap penerima manfaat program MBG demi memastikan bantuan benar-benar diterima kelompok yang membutuhkan intervensi gizi. Evaluasi akan dilakukan terhadap jumlah penerima manfaat yang saat ini mencapai sekitar 63 juta orang di tingkat nasional. Kebijakan ini bertujuan untuk menyeleksi kelayakan sekolah penerima, seperti mengalihkan alokasi dari sekolah-sekolah di kawasan kaya yang pemenuhan gizinya sudah baik di rumah, ke wilayah atau kelompok masyarakat yang belum memperoleh manfaat agar distribusi berjalan tepat sasaran. "Jadi, kita lebih arahkan nanti benar-benar pada anak-anak atau penerima manfaat yang benar-benar membutuhkan intervensi gizi," ungkap Nanik di hadapan wartawan.
Sementara itu, masih berkaca pada data resmi MBG, komponen pendataan di lapangan telah mencakup segmentasi demografi dan pemetaan risiko medis. Dari total sasaran riil di data wilayah tersebut, komposisi penerima berdasarkan jenis kelamin menunjukkan jumlah siswa laki-laki mencapai 2,3 juta anak, sedikit lebih tinggi dibandingkan siswa perempuan yang berjumlah 2,2 juta anak. Pemetaan berdasarkan gender ini tersebar dari tingkat PAUD, sekolah formal (SD hingga SMK), Sekolah Luar Biasa (SLB), hingga jalur non-formal seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB).
Selain aspek demografi, pengelolaan logistik dapur umum MBG juga bersandar pada data mitigasi kondisi khusus siswa yang mencatatkan total 119.385 kasus. Angka tersebut mencakup komponen kerentanan kesehatan spesifik, di mana terdapat 76.779 siswa yang teridentifikasi memiliki alergi makanan, 14.380 siswa mengalami fobia, dan 28.226 anak menderita intoleransi makanan seperti lactose intolerance. Data detail kesehatan per jenjang pendidikan ini menjadi instrumen krusial bagi BGN dan penyedia menu lokal untuk merancang substitusi makanan yang aman sekaligus mencegah fatalitas medis saat distribusi program berlangsung.