Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia terus meluas sepanjang tahun 2026 dan berdampak langsung pada memburuknya kualitas udara di sejumlah wilayah. Data SiPongi Kementerian Kehutanan per 15 Oktober 2026 mencatat total luas lahan yang terbakar di Indonesia telah mencapai 202.010,96 hektare. Dari total tersebut, Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan area kebakaran terluas, yakni mencapai 38.310,86 hektare.
Luas kebakaran yang signifikan juga terjadi di Papua Selatan sebesar 25.838,53 hektare, Nusa Tenggara Timur 19.565,16 hektare, Nusa Tenggara Barat 17.406,46 hektare, dan Riau seluas 15.738,92 hektare. Selain lima wilayah tersebut, karhutla juga melanda Maluku, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, hingga Kepulauan Riau.
Dampak kebakaran lahan ini terlihat jelas pada tingginya tingkat polusi udara, terutama partikel halus PM2.5. Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) per 15 Oktober 2026, Palangka Raya menempati posisi teratas dengan tingkat konsentrasi PM2.5 mencapai 1.067,5 mikrogram per meter kubik, disusul Pangkalan Bun sebesar 621,2 mikrogram per meter kubik. Tiga wilayah lain yang juga mencatatkan angka tinggi adalah Sintang sebesar 171,8, Kototabang 162,5, dan Kubu Raya 161,9 mikrogram per meter kubik.
Secara nasional, prakiraan BMKG menunjukkan ancaman udara tidak sehat masih terus membayangi selama beberapa hari ke depan. Pada 15 Oktober 2026, tercatat 150 wilayah berada di kategori tidak sehat, 6 wilayah sangat tidak sehat, dan 5 wilayah berstatus berbahaya. Meski jumlah titik dengan udara tidak sehat diprediksi berangsur turun menjadi 90 wilayah pada 18 Oktober 2026, jumlah wilayah dengan udara berstatus berbahaya justru diproyeksikan bertambah hingga mencapai 8 wilayah.