Erupsi Gunung Anak Krakatau yang berstatus Siaga (Level III) sejak Jumat (4/9) terus mengeluarkan abu vulkanik hingga terbawa angin ke wilayah Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Melansir laman resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengimbau warga di wilayah terdampak untuk membatasi kegiatan di luar rumah guna menghindari paparan abu yang berisiko memicu gangguan kesehatan akut.
Partikel abu vulkanik memiliki karakteristik yang sangat halus, ringan, sekaligus tajam. Jika terhirup, abu ini dapat langsung masuk ke paru-paru dan memicu Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), batuk berat, sesak napas, nyeri dada, hingga memperparah kondisi penderita asma dan PPOK. Selain sistem pernapasan, sifat abrasif dari abu ini berbahaya bagi mata karena dapat menimbulkan iritasi berat, nyeri, serta risiko kerusakan kornea bila dikucek. Paparan langsung pada kulit dan pakaian juga dapat memicu iritasi dan luka goresan mikro.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit jantung dan pernapasan kronis diminta untuk tetap berada di dalam ruangan tertutup. Mereka juga diimbau untuk tidak terlibat sama sekali dalam proses pembersihan endapan debu vulkanik.
Masyarakat diminta segera mencari pertolongan medis ke puskesmas 24 jam atau IGD terdekat jika mengalami gejala darurat, seperti sesak napas berbunyi menciut-ciut, nyeri dada akut, batuk yang tak kunjung reda, atau serangan asma mendadak untuk mendapatkan terapi uap maupun oksigenasi. Pemeriksaan medis darurat juga wajib dilakukan apabila mata terasa sangat nyeri, tetap memerah dan perih meski sudah dibilas air, atau mengalami penurunan daya penglihatan agar mendapat penanganan obat tetes khusus dari tenaga medis.