Rangkaian bencana alam di Indonesia sejak awal tahun hingga awal September 2026 meninggalkan dampak kemanusiaan dan kerusakan fisik yang sangat besar. Merujuk data pemantauan bencana dari BNPB periode 1 Januari sampai 9 September 2026, sebanyak 397 orang dilaporkan meninggal dunia, 13 orang hilang, 2.110 orang luka-luka, dan sedikitnya 4.411.811 jiwa terpaksa mengungsi serta menderita akibat bencana.
Kerusakan infrastruktur juga tersebar masif di berbagai daerah. Sebanyak 111.533 rumah warga mengalami kerusakan, dengan rincian 57.869 unit rusak ringan, 24.521 unit rusak sedang, dan 29.143 unit rusak berat. Selain merusak hunian warga, bencana alam merusak 3.473 fasilitas umum, yang mencakup 2.361 gedung sekolah dan sarana pendidikan, 882 rumah ibadah, serta 230 fasilitas pelayanan kesehatan.
Memasuki periode kemarau antara Juni hingga September 2026, jenis bencana di Tanah Air didominasi oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta ancaman kekeringan ekstrem. Pulau Kalimantan menjadi episentrum karhutla terbesar nasional, dipimpin oleh Kalimantan Barat dengan luas indikasi area terbakar menembus 38.310,87 hektare akibat meluasnya titik api di lahan gambut dan kawasan perkebunan. Masalah serupa meluas di Kalimantan Selatan dengan 8.019,64 hektare, Kalimantan Tengah 7.634,47 hektare, Kalimantan Timur 2.715,77 hektare, serta Kalimantan Utara seluas 400,62 hektare.
Kondisi kritis akibat terbakarnya vegetasi kering juga melanda kawasan Indonesia timur. Di Papua Selatan, kebakaran padang savana dan rawa gambut yang mengering telah menghanguskan lahan seluas 25.838,54 hektare. Wilayah kepulauan di Nusa Tenggara turut mencatat luasan kebakaran signifikan, yakni Nusa Tenggara Timur seluas 19.565,17 hektare dan Nusa Tenggara Barat mencapai 17.406,47 hektare yang diperparah oleh fenomena hari tanpa hujan (HTH) berkepanjangan. Sementara itu di Kepulauan Maluku, tercatat kebakaran lahan seluas 14.677,01 hektare yang mayoritas melalap savana dan semak belukar di pulau-pulau kering.
Di bagian barat nusantara, Provinsi Riau menjadi wilayah dengan karhutla terluas di Sumatra, yakni mencapai 15.738,93 hektare yang memicu kepungan kabut asap di sejumlah kabupaten. Karhutla juga terdeteksi di Kepulauan Riau seluas 5.760,90 hektare, Lampung 4.890,27 hektare, Aceh 4.070,48 hektare, Sumatra Selatan 1.926,23 hektare, dan Sumatra Barat seluas 1.491,07 hektare. Untuk Pulau Jawa, kebakaran vegetasi di lereng pegunungan kering dan lahan terbuka menempatkan Jawa Timur sebagai daerah paling terdampak dengan luas terbakar mencapai 10.835,29 hektare, disusul Jawa Barat seluas 1.892,97 hektare dan Jawa Tengah 947,97 hektare.
Selain ancaman karhutla dan krisis air bersih, aktivitas vulkanik serta gempa bumi menambah daftar kerawanan wilayah. Lima gunung api di Indonesia saat ini berada pada status Level III (Siaga), yaitu Gunung Anak Krakatau di Lampung yang sebaran abunya melintasi Selat Sunda hingga Banten, Gunung Sinabung di Sumatra Utara, Gunung Merapi di perbatasan Jateng-DIY, Gunung Semeru di Jawa Timur, serta Gunung Lewotobi Laki-laki di NTT.
Meski didominasi kemarau, bencana hidrometeorologi basah masih terjadi di beberapa titik akibat anomali cuaca lokal. Bencana banjir akibat tanggul jebol di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, merendam ribuan rumah warga, sementara banjir bandang menerjang wilayah Dogiyai di Papua Tengah. Di Papua Pegunungan, cuaca ekstrem hujan es dan fenomena embun beku merusak tanaman pangan warga, menunjukkan tingginya keragaman risiko bencana yang dihadapi berbagai wilayah di Indonesia sepanjang tahun 2026.