Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda memicu sebaran abu vulkanik pekat yang berdampak langsung pada ruang udara serta permukiman di sejumlah wilayah. Berdasarkan pemetaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tiga kabupaten menjadi titik terparah akibat paparan abu vulkanik, yakni Kabupaten Pandeglang di Banten, serta Kabupaten Tanggamus dan Lampung Selatan di Lampung.
Di Pandeglang, paparan abu pekat disertai suara dentuman dan getaran terasa hingga kawasan Labuan, Carita, Panimbang, dan Jiput. Sementara di Tanggamus, sebaran abu melanda permukiman di puluhan desa pada empat kecamatan utama, yaitu Pematang Sawa, Cukuh Balak, Semaka, dan Kota Agung. Dampak serupa terjadi di pesisir Lampung Selatan, khususnya Kecamatan Rajabasa, Punduh Pedada, serta kawasan Pulau Sebesi dan Pulau Sebuku. Selain ketiga wilayah tersebut, hujan abu juga mengguyur tujuh kecamatan di Kabupaten Serang, DKI Jakarta, Jawa Barat termasuk Bandung Raya, hingga meluas ke Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Sumatera Barat.
Memburuknya kondisi ruang udara memaksa otoritas memperpanjang masa penutupan sementara empat bandara utama hingga 7 September 2026 pukul 18.00 WIB. Keempat simpul transportasi tersebut meliputi Bandara Soekarno-Hatta (CGK), Bandara Halim Perdanakusuma (HLP), Bandara Radin Inten II Lampung (TKG), dan Bandara Husein Sastranegara Bandung (BDO). Langkah ini diambil guna menjamin keselamatan penerbangan serta membersihkan fasilitas pendaratan dari partikel abu berbahaya. Sebelumnya, Bandara Budiarto Curug (RTO) juga sempat ditutup sementara pada 6 September pagi.
Analisis citra satelit BMKG bersama pemantauan PVMBG dan VAAC Darwin menunjukkan sebaran abu bergerak dalam dua lapisan ketinggian. Lapisan pertama dari permukaan hingga ketinggian 20.000 kaki bergerak ke arah tenggara menuju selatan, melintasi sebagian Banten dan Jawa Barat. Sementara lapisan kedua dari permukaan hingga 50.000 kaki mengarah ke barat daya hingga barat laut, mencakup wilayah barat Sumatra dan Samudra Hindia. Dengan kecepatan angin yang berkisar antara 2 hingga 30 knot, pergerakan abu vulkanik masih sangat dinamis dan terus dipantau secara ketat.