Ancaman kekeringan akibat musim kemarau mulai meluas di sejumlah wilayah Indonesia. Laporan perkembangan BMKG hingga pertengahan Juli 2026 mencatat hampir tiga perempat wilayah tanah air (sekitar 78% dari total zona musim/ZOM), telah resmi memasuki musim kemarau. Kondisi ini diperparah oleh makin bertambahnya daerah yang mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) berturut-turut dengan durasi panjang hingga ekstrem.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta, dampak kekeringan menerjang beberapa wilayah dengan tingkat kerawanan berbeda. Kabupaten Bantul kini berada pada status Awas, Kabupaten Gunungkidul berstatus Siaga, dan Kabupaten Kulon Progo masuk kategori Waspada. Sementara itu, Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman mulai terdeteksi berpotensi terdampak. Untuk mengantisipasi krisis air, pemerintah daerah telah memetakan skenario distribusi air bersih, termasuk penyiapan cadangan hingga 1.500 tangki air di Gunungkidul dan 50 tangki di Sleman, serta mengoptimalkan sistem pompanisasi dan irigasi pertanian.
Langkah antisipasi masif lintas sektor juga dilakukan di Jawa Timur. Tiga wilayah, yaitu Kabupaten Lumajang, Mojokerto, dan Situbondo, telah menetapkan status Tanggap Darurat. Sementara 11 kabupaten lainnya, seperti Bondowoso, Lamongan, Banyuwangi, hingga Sampang, berada pada status Siaga Darurat. Pemerintah Provinsi Jawa Timur memfokuskan mitigasi pada penyelamatan sektor pertanian, pencegahan krisis air minum bagi jutaan warga, dan pengamanan lahan dari risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Di Jawa Tengah, sebanyak 19 kabupaten dan kota berada pada status Waspada, mulai dari daerah pesisir seperti Kendal dan Demak hingga kawasan Solo Raya dan Magelang. Pemprov Jawa Tengah memfokuskan penanganan pada jaminan pasokan air bersih konsumsi masyarakat, perlindungan lahan pertanian demi menjaga target produksi padi nasional, serta penanganan potensi karhutla secara intensif.
Sementara di Jawa Barat, Kabupaten Bogor, Bandung, dan Ciamis diminta meningkatkan kewaspadaan. Pemprov Jawa Barat bersama BPBD dan pemerintah daerah setempat memperketat strategi mitigasi berbasis tingkat kerawanan. Upaya yang disiapkan meliputi penyaluran air bersih melalui armada mobil tangki, pembuatan sumur bor baru, hingga perbaikan kualitas lingkungan secara berkelanjutan.