Krisis energi akibat konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pangan global. Eskalasi konflik, gangguan jalur logistik, serta ketidakpastian perdagangan internasional dinilai berpotensi menekan pasokan sekaligus mendorong kenaikan harga pangan dunia.
Di tengah tekanan tersebut, Indonesia justru mencatatkan perkembangan positif dalam ketahanan pangan nasional. Kementerian Pertanian (Kementan) melaporkan, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog telah mencapai 4,7 juta ton, yang merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah sejak Bulog berdiri dan masih berpotensi meningkat menuju 5 juta ton. Selain itu, ketersediaan beras di pasar domestik dan sektor HoReCa (Hotel, Restoran, dan Katering) tercatat mencapai 12 juta ton.
Peningkatan ini tidak terlepas dari lonjakan produksi padi nasional. Kementan mencatat, produksi padi pada 2025 meningkat 13,30% year on year/yoy dari 53,14 juta ton pada 2024 menjadi 60,21 juta ton. Kenaikan tersebut sejalan dengan luas panen yang tumbuh 12,64% yoy menjadi 1,51 juta hektare (ha) pada 2025. Sebagai perbandingan, dalam 5 tahun terakhir luas panen padi berada di kisaran 10 juta hektare dengan produksi di bawah 50 juta ton.
Dalam periode 5 tahun tersebut, produksi padi tercatat tumbuh 10,65% dengan luas panen meningkat 8,74%. Hingga Februari 2026, luas panen padi telah mencapai 1,51 juta ha dengan produksi sebesar 10,65 juta ton. Capaian ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan Indonesia tidak hanya ditopang oleh meningkatnya cadangan pangan, tetapi juga oleh peningkatan produktivitas sektor pertanian secara menyeluruh.