Center for Climate and Energy Solutions bersama World Resources Institute (WRI) merumuskan strategi komprehensif untuk menekan konsumsi BBM melalui 3 tahapan waktu. Dalam jangka pendek, masyarakat diimbau menerapkan gaya mengemudi irit, menurunkan batas kecepatan, serta mematikan mesin saat berhenti lama. Memasuki jangka menengah, efisiensi diperkuat dengan rutinitas servis kendaraan, peningkatan frekuensi kerja dari rumah (WFH), hingga pengalihan moda transportasi ke angkutan umum atau kereta cepat untuk perjalanan jarak jauh demi memangkas ketergantungan pada bensin secara drastis.
Meski demikian, strategi jangka panjang memerlukan perombakan infrastruktur yang lebih mendasar, seperti peralihan ke kendaraan listrik dan rancang kota yang ramah pejalan kaki. Sayangnya, berjalan kaki dan bersepeda seringkali diabaikan dalam pembiayaan infrastruktur karena anggaran biasanya memprioritaskan proyek yang berpusat pada mobil. Pemerintah serta bank pembangunan multilateral harus segera menyadari pentingnya pendanaan jalur khusus untuk mencapai tingkat keselamatan yang dibutuhkan bagi pejalan kaki dan pesepeda agar masyarakat lebih berani beralih dari kendaraan pribadi.
Keberhasilan investasi infrastruktur mikro ini telah terbukti di berbagai wilayah. Melansir data WRI, pemerintah Peru mengeluarkan dekrit darurat untuk menyetujui dana sebesar USD 5,5 juta bagi pembangunan jalur sepeda sementara di 25 kota. Hasilnya, terbangun sekitar 400 kilometer jalur sepeda yang memicu perubahan budaya transportasi di daerah yang sebelumnya tidak memiliki fasilitas tersebut. Langkah ini menjadi bukti bahwa dukungan regulasi dan pendanaan yang kreatif bagi transportasi publik serta jalur non-motor dapat menjadi solusi permanen dalam menghadapi fluktuasi harga minyak dunia.