Biaya Premi Asuransi Kesehatan Makin Mahal, Ini Perbandingan Premi di 10 Negara

Rabu, 20 Mei 2026 | 18:05 WIB

Y
Penulis: Yelinka Maresa Sianturi | Editor: YS
Facebook X Whatsapp Telegram
URL berhasil di salin.
Biaya Premi Asuransi Kesehatan Makin Mahal, Ini Perbandingan Premi di 10 Negara
Rata-rata premi di AS naik 55,81% yoy, dari US$9,82 ribu pada 2023 menjadi US$15,30 ribu pada 2024, disusul Thailand (30,63% yoy) dan China (12,15% yoy).

Biaya proteksi kesehatan pribadi terus mengalami pergeseran di berbagai belahan dunia. Berdasarkan data komparatif periode 2023–2024, mayoritas negara mencatat kenaikan premi asuransi kesehatan pribadi tahunan. Tren ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari inflasi medis, meningkatnya biaya teknologi perawatan, hingga perubahan struktur demografis dan pola konsumsi layanan kesehatan pascapandemi.

Amerika Serikat menempati posisi teratas sebagai negara dengan premi asuransi kesehatan pribadi termahal sekaligus mencatat lonjakan paling tajam. Rata-rata premi tahunan di negara tersebut meningkat dari US$9,82 ribu pada 2023 menjadi US$15,30 ribu pada 2024, atau melonjak 55,81%. Kompleksitas sistem kesehatan berbasis swasta, tingginya harga obat-obatan, serta kenaikan biaya layanan medis menjadi faktor utama pendorong lonjakan tersebut.

Di kawasan Asia, Thailand mencatat kenaikan terbesar kedua dengan pertumbuhan premi mencapai 30,63%, dari US$3,59 ribu menjadi US$4,70 ribu. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya biaya layanan kesehatan seiring pesatnya perkembangan industri kesehatan dan pariwisata medis di negara tersebut.

Sementara itu, sejumlah negara maju di Asia Timur dan Australia menunjukkan kenaikan premi yang lebih moderat. China mencatat kenaikan sebesar 12,15%, dengan rata-rata premi naik menjadi US$5,92 ribu pada 2024. Adapun Jepang (2,93%), Malaysia (2,92%), dan Australia (2,85%) membukukan pertumbuhan yang relatif seragam, dengan rata-rata premi tahunan berada di kisaran US$4,9 ribu hingga US$5,2 ribu.

Bagi Indonesia, pergerakan premi asuransi kesehatan pribadi tergolong relatif stabil. Rata-rata premi hanya naik 1,02%, dari US$4,69 ribu pada 2023 menjadi US$4,73 ribu pada 2024. Kenaikan yang rendah ini menempatkan Indonesia dalam kelompok negara dengan pertumbuhan premi paling terkendali di kawasan. Biaya proteksi kesehatan di Indonesia pun masih relatif kompetitif dibandingkan beberapa negara tetangga, meski sedikit lebih tinggi dibandingkan Vietnam, yang mencatat kenaikan terendah kedua sebesar 0,55%, dengan rata-rata premi mencapai US$4,55 ribu.

Di tengah tren kenaikan global, Singapura menjadi satu-satunya negara dalam daftar yang mencatat penurunan premi. Rata-rata premi turun 2,46%, dari US$7,03 ribu pada 2023 menjadi US$6,86 ribu pada 2024.

Penurunan ini tidak serta-merta menunjukkan biaya proteksi kesehatan di Singapura menjadi lebih murah. Sebaliknya, tekanan inflasi dan tingginya suku bunga mendorong banyak pemegang polis beralih ke skema dengan tanggungan biaya awal yang lebih besar serta cakupan perlindungan yang lebih terbatas. Dengan skema ini, peserta menanggung porsi biaya lebih besar saat mengajukan klaim, sehingga premi yang dibayarkan menjadi lebih rendah. Kondisi tersebut menurunkan rata-rata premi, meskipun biaya dasar paket asuransi secara keseluruhan tetap mengalami kenaikan.

Secara keseluruhan, data ini menunjukkan bahwa dinamika premi asuransi kesehatan global sangat dipengaruhi oleh struktur sistem kesehatan, regulasi pemerintah, tingkat inflasi medis, serta strategi penyesuaian pasar asuransi di masing-masing negara.

Rata-rata premi di AS naik 55,81% yoy, dari US$9,82 ribu pada 2023 menjadi US$15,30 ribu pada 2024, disusul Thailand (30,63% yoy) dan China (12,15% yoy). - (Pacific Prime Cost of International Health Insurance Report/DATASATU)
Rata-rata premi di AS naik 55,81% yoy, dari US$9,82 ribu pada 2023 menjadi US$15,30 ribu pada 2024, disusul Thailand (30,63% yoy) dan China (12,15% yoy). - (Pacific Prime Cost of International Health Insurance Report/DATASATU)

Data Terbaru

program-b50-dorong-konsumsi-sawit-domestik-ekspor-berpotensi-tertekan
Ekonomi

Program B50 Dorong Konsumsi Sawit Domestik, Ekspor Berpotensi Tertekan

Implementasi B50 diproyeksi meningkatkan konsumsi sawit domestik, namun perlambatan produksi berpotensi menekan ruang ekspor CPO Indonesia hingga akhir 2026.

7 jam yang lalu

ketahui-syarat-nelayan-penerima-bbm-khusus-15-ribu-per-liter
Hukum & Keamanan

Ketahui Syarat Nelayan Penerima BBM Khusus 15 Ribu per Liter

Presiden Prabowo menginstruksikan pemberian harga khusus BBM jenis solar sebesar Rp15.000 per liter bagi pelaku usaha perikanan dengan kapal berskala besar.

14 jam yang lalu

pupuk-npk-phonska-dan-urea-jadi-produk-paling-laris-di-kopdes
Ekonomi

Pupuk NPK Phonska dan Urea Jadi Produk Paling Laris di Kopdes

Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih mencatat aktivitas perdagangan yang signifikan pada sejumlah komoditas utama.

17 jam yang lalu

harga-bbm-nonsubsidi-masih-lebih-tinggi-dibanding-awal-tahun
Ekonomi

Harga BBM Nonsubsidi Masih Lebih Tinggi Dibanding Awal Tahun

Sepanjang 2026, seluruh jenis BBM nonsubsidi mencatat kenaikan harga dibandingkan awal tahun. Pertamina Dex mengalami kenaikan tertinggi sebesar 55,51%, diikuti Dexlite 45,93%, Pertamax Turbo 44,03%, Pertamax 31,58%, dan Pertamax Green 95 29,28%. Meski demikian, penyesuaian pada 1 Juli 2026 menurunkan harga Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex dibandingkan 10 Juni 2026.

18 jam yang lalu

begini-kronologi-penemuan-laboratorium-narkoba-di-semarang
Hukum & Keamanan

Begini Kronologi Penemuan Laboratorium Narkoba di Semarang

Satuan Reserse Narkoba Polres Metro Jakarta Barat membongkar laboratorium yang memproduksi narkotika golongan I jenis tablet karisoprodol di Kota Semarang.

20 jam yang lalu

mandatori-b50-berlaku-ini-proyeksi-kebutuhan-sawit-menuju-b100
Ekonomi

Mandatori B50 Berlaku, Ini Proyeksi Kebutuhan Sawit Menuju B100

Mandatori B50 resmi berjalan. Pemerintah menyiapkan transisi ke B60 dan B100, sehingga penguatan pasokan sawit dan produktivitas kebun jadi kunci keberlanjutan.

22 jam yang lalu