Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat kian menekan industri kesehatan di Indonesia secara masif dari hulu hingga ke sektor tengah. Di sektor hulu, ketergantungan terhadap impor Bahan Baku Obat (BBO) yang mencapai 94% dari China dan India membuat biaya produksi farmasi melonjak tajam, terlebih kontribusi komponen baku dan kemasan menyumbang hingga 65% dari Beban Pokok Penjualan. Berdasarkan pemantauan media yang dilakukan tim riset DATASATU, tekanan ini diperparah di sektor tengah karena pengadaan alat medis canggih seperti MRI, CT Scan, hingga bahan habis pakai ruang operasi mayoritas menggunakan dolar AS, sehingga memicu pembengkakan biaya pengadaan dan pemeliharaan rumah sakit.
Kondisi tersebut berimplikasi langsung pada sektor hilir akibat daya beli masyarakat yang tidak sebanding dengan meroketnya biaya produksi obat. Risiko kelangkaan obat-obatan esensial serta potensi kenaikan harga di pasar kini menjadi ancaman nyata yang harus dihadapi konsumen. Dalam jangka panjang, ketidakseimbangan struktural ini berisiko memberikan tekanan finansial yang sangat serius terhadap stabilitas dan keberlanjutan pembiayaan jaminan kesehatan nasional oleh BPJS Kesehatan.
Tidak hanya berdampak pada operasional klinis, pelemahan Rupiah juga menghambat pengembangan akademis dan kompetensi medis nasional. Mahalnya biaya pelatihan subspesialis, fellowship, konferensi internasional, hingga publikasi jurnal ilmiah global seperti Scopus yang berbasis dolar AS kian mencekik institusi dengan riset terbatas. Jika situasi ini terus dibiarkan, Indonesia menghadapi risiko besar terperangkap hanya sebagai pasar pengguna teknologi kesehatan asing tanpa pernah menjadi pusat inovasi yang mandiri.