Konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas di kawasan Timur Tengah sejak akhir Agustus 2026. Ketegangan bermula pada 30 Agustus 2026, ketika AS melancarkan serangan udara ke fasilitas militer dan peluncur ranjau Iran di Selat Hormuz. Serangan ini dilakukan sebagai balasan atas aksi tebar ranjau serta tembakan delapan rudal ke pangkalan AS di Yordania. Di hari yang sama, sebuah proyektil misterius juga menghantam sebuah kapal tanker minyak di selat tersebut.
Situasi kian meruncing pada 31 Agustus 2026 setelah proyektil Iran menyerang dua kapal tanker berukuran sangat besar, termasuk Senegal Prosperity, yang melintasi rute alternatif selatan. Di tengah memuncaknya ketegangan jalur pelayaran, Presiden Iran Masoud Pezeshkian terbang menghadiri KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai di Bishkek untuk menggalang dukungan ekonomi dan militer.
Puncak serangan udara besar-besaran AS terjadi pada 1 September 2026 dengan menyasar radar pemantau kapal, sistem pertahanan udara, aset maritim, fasilitas komunikasi di Selat Hormuz, bandara di Kerman, serta pulau di Teluk. Laporan Le Monde menyebut, serangan ini turut menghantam acara pernikahan di Sirik yang menewaskan 4-5 orang, termasuk anak usia empat tahun, dan melukai 50 hingga 68 warga sipil. Dari kubu militer Iran, sebanyak 18 personel tewas, meliputi korban di Khuzestan, Kermanshah, dan Pulau Lavan. Presiden AS Donald Trump pun langsung memperingatkan lewat media sosial Truth Social bahwa serangan yang jauh lebih dahsyat siap dilancarkan jika Iran berani membalas.
Peringatan tersebut dibalas Garda Revolusi Iran pada 2 September 2026 lewat gelombang serangan rudal dan pesawat tanpa awak serentak ke pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, Irak, Bahrain, dan Uni Emirat Arab. Pertahanan udara Yordania berhasil mencegat 10 dari 13 rudal balistik, sementara serangan di Erbil, Irak, diklaim merusak fasilitas pendukung militer AS. Di Kuwait, serangan menyasar Pangkalan Udara Ali Al Salem serta memicu kebakaran kompleks hunian tanpa korban jiwa. Di tengah eskalasi yang juga membakar dua tanker akibat ranjau laut, Pakistan bersama Qatar dan Oman berupaya mendorong dialog damai demi menghentikan perang dan membuka kembali Selat Hormuz.