Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah pada awal Oktober 2026 kian meruncing di dua front utama, yakni poros konfrontasi Amerika Serikat–Israel melawan Iran serta meletusnya pertempuran skala penuh di Yaman. Kendati tensi keamanan memanas, data Kpler per 6 Oktober 2026 mencatat lonjakan ekspor minyak mentah Timur Tengah pada akhir September mencapai 19,5–22,5 juta barel per hari (bph), melampaui rata-rata praperang sebesar 18 juta bph. Pada saat yang sama, pengiriman LNG melalui Selat Hormuz menyentuh level tertinggi sejak Februari.
Pada front pertama, tensi yang meningkat per 5 Oktober 2026 mendorong Amerika Serikat bersiap mengirimkan tambahan pasukan serta jet tempur ke Israel dalam beberapa pekan mendatang untuk mengantisipasi potensi serangan rudal Iran. Saat ini, sekitar 3.000 personel militer AS telah disiagakan di berbagai titik di Israel guna mengoperasikan sistem pertahanan udara, kru pendukung, hingga logistik. Koordinasi militer ketat juga terus dibangun antara militer Israel dan Komando Pusat AS (CENTCOM) untuk memetakan sejumlah target operasi potensial di Iran. Di ranah diplomatik, Menlu Iran Abbas Araghchi sempat menyatakan kesiapan negaranya berunding dan menyodorkan tujuh persyaratan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, tetapi upaya tersebut menemui jalan buntu setelah Presiden AS Donald Trump menolak mentah-mentah seluruh syarat tersebut.
Sementara itu di front kedua, pertempuran pecah secara masif per 6 Oktober 2026. Pasukan Yaman sekutu Arab Saudi bergerak kilat merebut kembali kawasan pesisir Selat Bab el-Mandeb hingga kota Mokha. Menanggapi dinamika lapangan, Presiden Yaman yang diakui secara internasional, Rashad al-Alimi, resmi mendeklarasikan perang skala penuh (habis-habisan) guna membebaskan seluruh wilayah dari kendali Houthi dan memulihkan otoritas negara, menyusul pertempuran sengit di Sanaa, Saada, dan Taiz.
Houthi merespons dengan serangan balasan cepat: memutus koridor pasokan strategis yang menghubungkan kota Taiz dengan ibu kota sementara Aden, sehingga berhasil mengisolasi serta mengepung Taiz yang berpenduduk 500.000 jiwa dan memaksa 184.000 warganya mengungsi. Tidak hanya itu, Houthi melancarkan serangan balasan atas puluhan gempuran udara koalisi dengan menembakkan rudal balistik dan drone ke empat wilayah vital Arab Saudi, termasuk memicu kebakaran besar pada fasilitas Saudi Aramco di Riyadh dan kawasan Khurais.
Secara geostrategis, Inggris telah menyetujui pengerahan pesawat militer untuk misi pengisian bahan bakar udara jet tempur koalisi Saudi. Namun, Presiden AS Donald Trump menolak desakan dari Yaman dan Arab Saudi untuk menyerang sasaran Houthi secara langsung, berpegang pada kesepakatan bahwa Houthi tidak akan menyasar aset-aset milik AS. Di sisi lain, Houthi berhasil menguasai sekitar 130 km garis pantai Laut Merah—mencakup Mokha, Pulau Perim, hingga Selat Bab el-Mandeb—yang secara efektif memblokir rute ekspor minyak alternatif Saudi di tengah gangguan Selat Hormuz. Didukung aliran persenjataan, teknologi rudal canggih, serta pelatihan dari Garda Revolusi Iran, Hizbullah, dan milisi Irak, Houthi kini memegang kendali atas kawasan yang dihuni oleh 70% hingga 80% populasi Yaman. (Yesi Rahma Mustika)