Pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menorehkan sejarah baru di Timur Tengah dengan berbagai anomali yang tidak biasa. Peristiwa kolosal ini menarik perhatian dunia, salah satunya karena adanya penundaan pemakaman paling lama dalam tradisi Islam. Jenazah Khamenei baru dimakamkan empat bulan setelah ia tewas dalam serangan udara Amerika Serikat dan Israel pada Februari lalu. Penundaan ekstrem ini terpaksa dilakukan demi alasan keamanan dan menghindari risiko serangan militer selama konflik memuncak. Selama masa tunggu tersebut, komite pemakaman mengawetkan jenazah berdasarkan prinsip hukum dan agama.
Otoritas Iran memperkirakan prosesi penghormatan terakhir yang berlangsung selama 6 hingga 7 hari ini dihadiri hingga 30 juta orang, menjadikannya prediksi massa pemakaman terbesar di abad ini. Jumlah ini jauh melampaui rekor pemakaman pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Khomeini pada tahun 1989 yang mendatangkan 10 juta pelayat. Skala yang masif membuat pemerintah memperketat keamanan demi mengantisipasi tragedi saling injak, berkaca dari pemakaman Khomeini terdahulu yang berujung ricuh hingga peti matinya hancur akibat kepungan massa. Keunikan lainnya, prosesi ini dilakukan secara lintas negara. Jenazah Khamenei tidak hanya diarak di kota-kota besar Iran seperti Teheran, Qom, dan kota kelahirannya Mashhad selaku lokasi penguburan akhir, tetapi juga diterbangkan ke kota suci Irak, yakni Najaf dan Karbala.
Di tengah kemegahan acara dengan simbol tangan mengepal merah ini, sang suksesor sekaligus putra almarhum, Ayatollah Mojtaba Khamenei, justru harus bersembunyi. Poster wajahnya terpampang di berbagai sudut kota sebagai pemimpin baru, namun ia terpaksa absen dari pemakaman ayahnya sendiri akibat ancaman pembunuhan langsung dari Israel.
Mengutip laporan dari Al Jazeera, pemakaman kenegaraan ini juga menjadi panggung diplomasi regional yang menegaskan isolasi Iran dari dunia Barat. Iran secara terbuka tidak mengundang satu pun pemimpin Barat dan mengecam negara-negara Eropa. Sebaliknya, sejumlah pemimpin senior dari negara sekutu dan tetangga hadir memberikan penghormatan terakhir.
Rusia mengirimkan Wakil Ketua Dewan Keamanan Dmitry Medvedev, sementara China diwakili oleh He Wei yang menjabat sebagai Wakil Ketua Komite Berdiri Kongres Rakyat Nasional. Turkiye juga mengonfirmasi kehadiran Wakil Presiden Cevdet Yilmaz. Delegasi India dipimpin oleh Wakil Menteri Luar Negeri Pabitra Margherita bersama Syed Ata Hasnain, Gubernur Bihar sekaligus tokoh Syiah paling senior di pemerintahan India. Selain itu, pemerintahan Taliban di Afghanistan mengutus Menteri Luar Negeri Amir Khan Muttaqi dan Wakil Perdana Menteri Pertama Bidang Ekonomi Abdul Ghani Baradar, sementara Bangladesh mengirimkan Ketua Parlemen Hafiz Uddin Ahmed untuk menghadiri upacara tersebut.