Situasi di Selat Hormuz mulai menunjukkan pola lalu lintas yang selektif. Pada Minggu (15/3/2026), kapal tanker Aframax berbendera Pakistan, Karachi, tercatat berhasil berlayar keluar dari Teluk melalui selat tersebut. Di saat yang sama, Iran memberikan perlakuan khusus bagi armada laut India. Duta Besar Iran untuk India, Mohammad Fathali, mengonfirmasi bahwa sejumlah kapal India telah diizinkan melintas, meskipun rincian jumlah pastinya tidak disebutkan.
Langkah ini diperkuat oleh pernyataan resmi Pemerintah India yang mengonfirmasi bahwa dua kapal tanker pengangkut liquefied petroleum gas (LPG) berbendera India sukses melewati Selat Hormuz menuju pelabuhan di wilayah India Barat.
Sentimen positif juga datang dari Turki. Menteri Transportasi dan Infrastruktur, Abdulkadir Uraloğlu, menyatakan bahwa salah satu kapal milik Turki yang sempat tertahan di perairan Iran akhirnya diperbolehkan melanjutkan perjalanan setelah mendapatkan izin khusus dari Teheran.
Izin terbatas ini menegaskan adanya pendekatan diskriminatif yang disengaja dalam pengaturan lalu lintas di jalur energi paling krusial di dunia tersebut. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Selat Hormuz secara teknis tetap terbuka. Namun, ia menekankan bahwa pembatasan akses secara ketat hanya berlaku bagi Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara yang dianggap sebagai sekutu mereka.