Kinerja perdagangan Indonesia dengan Uni Emirat Arab (UAE), Oman, dan Iran mencatatkan pertumbuhan signifikan pada awal 2026, namun bayang-bayang penutupan Selat Hormuz mengancam stabilitas arus logistik nasional. UAE muncul sebagai mitra paling strategis dengan nilai ekspor mencapai US$ 367,3 juta, didominasi oleh komoditas perhiasan dan peralatan listrik. Jika jalur utama Selat Hormuz terganggu, Indonesia tidak hanya terancam kehilangan pasar ekspor yang tumbuh hingga 49% di wilayah tersebut, tetapi juga menghadapi hambatan distribusi produk manufaktur seperti kendaraan dan besi baja yang menjadi andalan pengiriman ke kawasan Teluk.
Di sisi impor, ketergantungan Indonesia terhadap pasokan energi dan bahan baku industri dari kawasan ini sangat krusial. Total impor migas dan non-migas dari UAE dan Oman saja melampaui angka US$ 490 juta, dengan komoditas kritis seperti bahan bakar mineral, besi baja, serta bahan kimia dasar. Penutupan akses Selat Hormuz dipastikan akan memicu lonjakan biaya logistik dan kelangkaan pasokan bahan baku yang dapat melumpuhkan industri dalam negeri. Data Kementerian Perdagangan pada Januari 2026 menunjukkan betapa vitalnya jalur ini, mengingat hampir seluruh arus keluar-masuk barang dengan ketiga negara tersebut bergantung pada keamanan navigasi di perairan strategis tersebut.
Berikut data statistik ekspor-impor Indonesia terhadap 3 negara mitra dagang di Selat Hormuz: