Serangan Israel dan Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2/2026) menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta mantan Presiden Mahmoud Ahmadinejad. Tak hanya memicu eskalasi militer, tetapi juga mengguncang fondasi ekonomi global, terutama sektor energi yang sangat bergantung pada stabilitas Timur Tengah.
Iran memegang posisi strategis dalam pasar energi dunia. Negara ini memiliki cadangan minyak terbesar keempat dan gas alam terbesar kedua secara global. Data Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) menunjukkan produksi minyak mentah Iran berada di kisaran 3,1 juta barel per hari. Meski lebih rendah dibandingkan puncak produksi tahun 1974 yang mencapai 6 juta barel per hari, volumenya tetap signifikan. Keunggulan lain terletak pada biaya produksi yang relatif murah, sekitar US$ 10 per barel, jauh di bawah biaya produsen Barat yang berada di kisaran US$ 40–60 per barel.
Perang Iran dengan Israel berpotensi menyebabkan lonjakan harga minyak yang menimbulkan efek berantai. Sektor transportasi, manufaktur, industri kimia, hingga pertanian sangat tergantung pada energi fosil. Ketika harga energi naik, biaya produksi terdorong meningkat dan pada akhirnya diteruskan kepada konsumen dalam bentuk kenaikan harga barang dan jasa. Tekanan inflasi pun tak terhindarkan, terutama bagi negara berkembang yang masih mengandalkan impor energi karena berisiko memperlebar defisit perdagangan serta menekan nilai tukar.
Risiko terbesar pasar saat ini terletak pada kemungkinan Iran memblokir Strait of Hormuz. Berdasarkan data US Energy Information Administration (EIA), sekitar 20 juta barel minyak per hari atau hampir 20% konsumsi global melewati jalur tersebut pada 2024. Jalur selebar 33–39 kilometer ini sangat rentan secara geografis, dengan kedalaman maksimal sekitar 60 meter. Jika gangguan pasokan mendorong harga kembali menembus US$ 100 per barel, dunia berpotensi menghadapi gelombang inflasi baru dan tekanan kebijakan moneter yang dapat menyeret ekonomi ke fase perlambatan bahkan resesi.