Konflik Israel-AS dan Iran Ancam Ketahanan Pangan, Teluk Paling Berisiko

Sabtu, 7 Maret 2026 | 11:00 WIB

M
Penulis: Melati Kristina | Editor: MA
Facebook X Whatsapp Telegram
URL berhasil di salin.
Konflik Israel-AS dan Iran Ancam Ketahanan Pangan, Teluk Paling Berisiko
Eskalasi konflik Israel-AS dan Iran mengancam pasokan pangan negara Teluk. Ketergantungan impor hingga gangguan Selat Hormuz memicu risiko kelangkaan pangan.

Meningkatnya eskalasi konflik antara Israel-AS dan Iran mengancam ketahanan pangan global, terutama negara-negara yang berada di kawasan Teluk. Ketegangan militer di kawasan tersebut berpotensi mengganggu jalur pelayaran utama di Selat Hormuz yang selama ini menjadi rute vital distribusi pangan bagi negara-negara Teluk yang sangat bergantung pada impor.

Lembaga kajian Chatham House menilai eskalasi konflik berpotensi memicu krisis pangan global, terutama bagi negara-negara di kawasan Teluk. Sekitar 80-90% kebutuhan pangan kawasan ini dipenuhi melalui impor karena keterbatasan sumber air serta kondisi iklim yang ekstrem. Arab Saudi bahkan telah menghentikan program produksi gandum domestik sejak 2008 dan beralih hampir sepenuhnya pada impor.

Eskalasi konflik Israel-AS dan Iran mengancam pasokan pangan negara Teluk. Ketergantungan impor hingga gangguan Selat Hormuz memicu risiko kelangkaan pangan. - (Chatham House & berbagai sumber/Karen Agatha)
Eskalasi konflik Israel-AS dan Iran mengancam pasokan pangan negara Teluk. Ketergantungan impor hingga gangguan Selat Hormuz memicu risiko kelangkaan pangan. - (Chatham House & berbagai sumber/Karen Agatha)

Gangguan jalur logistik di Selat Hormuz menjadi salah satu risiko utama. Lebih dari 70% pasokan pangan negara anggota GCC diangkut melalui jalur tersebut sehingga konflik berpotensi menghambat distribusi pangan. Jika gangguan berlangsung lama, harga pangan diperkirakan melonjak dan sejumlah komoditas berisiko mengalami kelangkaan. Operasi pelabuhan utama seperti Jebel Ali di Dubai juga sempat terganggu akibat serangan yang mengenai jalur logistik kawasan.

Selain itu, kapasitas pelabuhan alternatif di luar Selat Hormuz masih terbatas sehingga sulit menggantikan peran pelabuhan utama. Negara-negara seperti Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Irak bahkan berpotensi mengalami isolasi logistik jika jalur laut terganggu. Sementara cadangan pangan strategis di kawasan diperkirakan hanya mampu menahan tekanan pasokan selama sekitar 4-6 bulan sebelum pasar menghadapi lonjakan harga dan keterlambatan distribusi.

Data Terkait

eskalasi-timteng-data-pasokan-minyak-di-balik-tensi-iran-yaman
Internasional

Eskalasi TimTeng: Data Pasokan Minyak di Balik Tensi Iran-Yaman

Eskalasi AS-Israel-Iran & perang di Yaman ancam Aramco serta rute Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb, meski ekspor minyak Timur Tengah tetap tembus 22,5 juta bph.

6 Okt 2026

daftar-maskapai-global-setop-terbang-ke-timur-tengah-hingga-2027
Otomotif

Daftar Maskapai Global Setop Terbang ke Timur Tengah hingga 2027

Akibat situasi keamanan yang belum kondusif, 6 maskapai global memperpanjang pembatalan dan penyesuaian tiket rute Timur Tengah hingga tahun 2027.

1 Okt 2026

77-negara-wo-saat-netanyahu-berpidato-di-forum-pbb
Internasional

77 Negara WO Saat Netanyahu Berpidato di Forum PBB

Sebanyak 77 negara dilaporkan melakukan aksi WO saat Perdana Menteri Israel, Netanyahu, menyampaikan pidatonya di forum PBB pada 24 September 2026.

28 Sep 2026

houthi-serang-kapal-tanker-saudi-di-laut-merah
Internasional

Houthi Serang Kapal Tanker Saudi di Laut Merah

Timteng kembali bergejolak. Kelompok bersenjata Houthi di Yaman yang didukung Iran mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi

23 Jul 2026

houthi-serang-saudi-timteng-kembali-memanas
Internasional

Houthi Serang Saudi, TimTeng Kembali Memanas

Kondisi di Timur Tengah kembali memanas. Kelompok Houthi yang didukung Iran kembali meluncurkan serangan rudal ke wilayah Arab Saudi

15 Jul 2026

perkembangan-terkini-as-serang-iran-yang-wajib-diketahui
Internasional

Perkembangan Terkini AS Serang Iran yang Wajib Diketahui

Ketegangan AS-Iran kembali memuncak setelah militer AS melancarkan serangan udara besar-besaran ke sejumlah fasilitas militer Iran di sekitar Selat Hormuz.

13 Jul 2026