Krisis energi yang semakin memburuk di kawasan Asia mulai memengaruhi berbagai segmen pasar energi. Sejumlah pemasok produk energi, mulai dari bahan bakar kapal hingga gas LPG, mulai mengurangi volume penjualan untuk mengelola persediaan yang semakin menipis di tengah ketidakpastian pasokan global.
Situasi ini dipicu oleh konflik yang meluas di kawasan Teluk Persia setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Ketegangan tersebut mengganggu perdagangan energi global dan hampir menghentikan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan produsen energi utama dunia dengan pasar konsumen internasional.
Di sisi produksi, Arab Saudi tercatat sebagai produsen minyak terbesar di kawasan Asia Pasifik dengan produksi sekitar 10,1 juta barel per hari hingga Januari 2026. Posisi tersebut diikuti China dengan produksi sekitar 4,24 juta barel per hari dan Irak sebesar 4,1 juta barel per hari. Uni Emirat Arab dan Iran juga masuk dalam lima besar produsen minyak kawasan. Dominasi negara-negara Timur Tengah dalam produksi minyak membuat konflik Iran-Israel berpotensi memberi dampak besar terhadap stabilitas pasokan energi global.