Ketegangan geopolitik akibat konflik AS-Israel dengan Iran di Selat Hormuz mulai berdampak serius pada stabilitas energi global. Saudi Aramco, sebagai eksportir minyak mentah terbesar di dunia, terpaksa memangkas pasokan ke pembeli di Asia untuk bulan kedua berturut-turut pada April mendatang. Data dari Kpler menunjukkan penurunan drastis volume ekspor dari 7,108 juta barel per hari pada Februari menjadi hanya 4,355 juta barel per hari sepanjang Maret. Langkah ini diambil untuk menjaga keamanan distribusi di tengah terganggunya jalur perdagangan utama yang selama ini mengandalkan Selat Hormuz.
Untuk menyiasati kebuntuan logistik tersebut, raksasa minyak milik negara ini memaksimalkan penggunaan rute alternatif melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Aramco memastikan tetap berkomitmen menjaga reliabilitas pasokan dengan memasok minyak jenis Arab Light kepada pelanggan tetap, meskipun jadwal pemuatan harus disesuaikan dengan realitas kondisi regional yang terus berkembang. Melalui kebijakan ini, Saudi Aramco berupaya keras mengimbangi disrupsi perdagangan sekaligus mendukung stabilitas pasar energi bagi para mitra strategisnya di tengah ketidakpastian keamanan internasional.
Dominasi pasar Asia dalam rantai pasok Saudi Aramco terlihat jelas dari data sepanjang tahun 2024, di mana China memimpin sebagai importir terbesar dengan total 78,64 juta ton minyak senilai USD 47,91 miliar. Jepang dan India menyusul di posisi berikutnya dengan volume masing-masing sebesar 46,43 juta ton dan 31,72 juta ton. Mengingat besarnya ketergantungan negara-negara Asia tersebut, efektivitas pengalihan jalur melalui Yanbu menjadi sangat krusial agar operasional kilang-kilang minyak di kawasan tersebut tidak terhambat dan tetap mampu memproduksi produk olahan secara optimal.