Pemerintah Indonesia melalui Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menegaskan komitmen untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional di tengah gejolak geopolitik Timur Tengah. Langkah strategis yang diambil adalah dengan melakukan impor dari berbagai negara pemasok tanpa membatasi opsi kerja sama pada pihak tertentu, termasuk peluang kerja sama dengan Rusia. Fokus utama pemerintah saat ini adalah memastikan ketersediaan energi dalam negeri tetap aman dengan harga yang kompetitif bagi masyarakat dan industri, sekaligus menjaga kekuatan fiskal APBN agar harga BBM bersubsidi tetap stabil.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Singapura masih menjadi mitra utama dengan volume impor yang terus melonjak tajam. Pada tahun 2020, impor dari Singapura tercatat sebesar 10,46 juta ton dan meningkat drastis hingga mencapai 16,87 juta ton pada tahun 2024. Selain Singapura, Malaysia juga menunjukkan tren peningkatan dengan menyuplai 7,54 juta ton pada tahun 2024. Negara produsen besar lainnya seperti Arab Saudi dan Amerika Serikat turut memainkan peran penting dengan kontribusi masing-masing sebesar 6,21 juta ton dan 5,67 juta ton pada periode yang sama.
Diversifikasi pemasok juga terlihat dari masuknya pasokan dari Nigeria sebesar 5,75 juta ton serta Uni Emirat Arab sebesar 2,80 juta ton pada tahun 2024. Indonesia juga mendatangkan minyak dari kawasan Asia lainnya seperti Tiongkok sebanyak 2,46 juta ton, Australia 2,16 juta ton, Korea Selatan 1,91 juta ton, dan Qatar 1,86 juta ton. Perencanaan kebijakan energi ini akan terus dilakukan secara adaptif, di mana pemerintah berencana mengevaluasi dinamika harga dan pasokan global lebih lanjut pada kuartal II 2026 untuk mencegah terjadinya kelangkaan energi di tanah air.