Konflik geopolitik di Timur Tengah mulai memberikan tekanan pada industri petrokimia nasional. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan adanya gangguan pada rantai pasok akibat krisis logistik energi di kawasan tersebut, terutama pada sektor hulu yang masih bergantung pada bahan baku impor. Kondisi ini memicu dinamika harga pada produk turunan petrokimia yang menjadi komponen penting di berbagai sektor industri.
Terlebih, produk petrokimia memiliki peran strategis karena digunakan secara luas di berbagai sektor, oleh karena itu, gangguan pada pasokan di sektor hulu berpotensi merambat hingga ke sektor hilir, sehingga memengaruhi stabilitas produksi dan harga di berbagai industri turunan.
Meski menghadapi tekanan, Kemenperin menyampaikan bahwa gangguan pasokan saat ini belum sampai menghentikan aktivitas produksi. Akan tetapi, pelaku industri telah melakukan penyesuaian harga di pasar seiring dengan kenaikan harga bahan baku plastik. Dalam jangka panjang, kenaikan harga tersebut berpotensi menekan kinerja industri petrokimia secara keseluruhan, meskipun sektor ini tengah menunjukkan tren pemulihan.
Melansir data Badan Pusat Statistik (BPS), laju pertumbuhan PDB industri kimia secara luas, termasuk farmasi dan obat tradisional pada 2025 mencapai 8,35% yoy. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan 2022 yang hanya tumbuh 0,69% yoy dan sempat melemah menjadi 0,11% pada 2023, sebelum kembali meningkat ke 5,86% yoy pada 2024. Meski demikian, capaian pada 2025 masih lebih rendah dibandingkan 2021 yang mencapai 9,61% yoy.