Konflik Iran-AS-Israel kembali memanas pada Minggu (10/5/2026) waktu setempat. Iran dilaporkan telah mengirimkan respons terhadap proposal terbaru Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri perang di kawasan melalui mediator Pakistan. Kantor berita pemerintah Iran, IRNA, melaporkan bahwa respons resmi Republik Islam Iran telah diserahkan kepada pihak Pakistan yang berperan sebagai mediator dalam pembicaraan tersebut.
Namun, beberapa jam setelah respons Iran dirilis, Presiden AS Donald Trump menolaknya melalui unggahan di media sosial Truth Social. Trump menyatakan tidak menyukai jawaban Iran dan menyebutnya sebagai sesuatu yang “sama sekali tidak dapat diterima”.
Di tengah meningkatnya ketegangan, situasi keamanan di kawasan Teluk juga semakin memburuk. Kementerian Pertahanan Kuwait mengumumkan telah mendeteksi “sejumlah drone bermusuhan” di wilayah udaranya pada Minggu, 10 Mei 2026. Otoritas setempat menyatakan bahwa drone-drone tak dikenal tersebut telah ditangani sesuai prosedur yang berlaku.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan perang melawan Iran belum berakhir. Dalam wawancara dengan program 60 Minutes milik CBS News yang tayang pada Minggu (10/5/2026), Netanyahu mengatakan stok uranium Iran harus “dikeluarkan” sebelum perang yang melibatkan AS dan Israel terhadap Iran dapat dianggap selesai.
Iran juga memperingatkan negara-negara yang mendukung penerapan sanksi AS terhadap Teheran akan menghadapi kesulitan saat melintasi Selat Hormuz. Pernyataan tersebut disampaikan juru bicara militer Iran, Akrami Nia, sebagaimana dilaporkan kantor berita Tasnim.
Dilansir dari BeritaSatu, Nia menyatakan bahwa negara mana pun yang memberlakukan atau mendukung sanksi AS terhadap Iran akan menghadapi risiko dalam aktivitas pelayaran di jalur strategis Selat Hormuz. Ia juga menilai pihak lawan pada akhirnya menyadari tidak mampu mematahkan perlawanan Iran sehingga bersedia menerima gencatan senjata.
Lebih lanjut, Nia mengatakan Iran memanfaatkan masa gencatan senjata untuk memperkuat kemampuan militer dan memperbarui sistem pertahanannya. Menurutnya, Iran telah memperkuat pasukan, memperbarui target strategis, serta meningkatkan posisi pertahanan dan serangan selama periode gencatan senjata berlangsung.