Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz kembali meningkat sepanjang April hingga Mei 2026 seiring eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Perkembangan terbaru terjadi pada 6 Mei 2026, ketika militer AS menembaki dan melumpuhkan kapal tanker berbendera Iran, M/T Hasna, yang diduga mencoba menerobos blokade angkatan laut AS di sekitar Selat Hormuz. Jet tempur Angkatan Laut AS jenis F/A-18 Super Hornet melumpuhkan kemudi kapal tersebut setelah awak kapal mengabaikan sejumlah peringatan dari militer AS.
Sebelumnya, pada 12 April 2026 Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana blokade terhadap Selat Hormuz setelah perundingan damai dengan Iran mengalami kegagalan. Sehari kemudian, Komando Pusat AS (CENTCOM) mulai menerapkan pembatasan terhadap lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran. Meskipun Iran sempat membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz pada 17 April 2026 setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata di kawasan Timur Tengah, situasi kembali memburuk sehari kemudian. Iran kembali menutup Selat Hormuz dan memperketat pengawasan militer setelah AS melanjutkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Pada periode tersebut juga terjadi sejumlah insiden keamanan, termasuk penembakan kapal tanker asing oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) serta serangan terhadap kapal berbendera India yang melintas di kawasan tersebut.
Di tengah meningkatnya ketegangan, AS mengklaim telah membersihkan ranjau laut di Selat Hormuz menggunakan drone laut sebagai bagian dari upaya menjaga jalur pelayaran internasional. Namun, situasi tetap memanas setelah Iran menangkap dua kapal kontainer asing pada 22 April 2026, yakni MSC Francesca dan Epaminondas, dengan tuduhan pelanggaran izin operasi dan manipulasi sistem navigasi.
Memasuki Mei 2026, konflik berlanjut melalui operasi militer AS bertajuk “Project Freedom” yang bertujuan mengawal kapal-kapal keluar dari Teluk Persia melalui Selat Hormuz. Meski Trump sempat mengumumkan penghentian sementara operasi tersebut pada 5 Mei 2026 karena adanya kemajuan menuju kesepakatan dengan Iran, insiden keamanan di kawasan masih terus terjadi. Sebuah kapal milik perusahaan pelayaran Prancis, CMA CGM, dilaporkan menjadi sasaran serangan di Selat Hormuz. Serangan yang sumbernya belum diketahui itu menyebabkan kerusakan pada kapal serta sejumlah awak mengalami luka-luka.