Konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat mulai mengganggu rantai pasokan energi global. Gangguan dari kawasan Timur Tengah membuat sejumlah kilang minyak di Asia, mulai dari China hingga Asia Tenggara, mencari sumber minyak alternatif dari wilayah lain meski harus menghadapi biaya pengiriman yang lebih mahal serta waktu distribusi yang lebih lama.
Beberapa negara bahkan mengambil langkah darurat untuk menjaga pasokan domestik. China dan Thailand sementara menghentikan ekspor produk minyak, sedangkan Vietnam menahan ekspor minyak mentah yang biasanya dikirim ke Australia.
Selain jarak pengiriman, karakteristik minyak mentah juga menjadi tantangan bagi kilang di Asia. Selama puluhan tahun fasilitas pengolahan di kawasan ini dirancang untuk memproses minyak jenis medium-sour dari Timur Tengah. Perubahan jenis minyak memerlukan penyesuaian teknis yang kompleks pada operasi kilang, mulai dari pengaturan titik pemisahan hingga komposisi produk bahan bakar.
Di Indonesia, gangguan jalur pelayaran energi global mulai terlihat. Pakar studi energi UGM menyebut sekitar 150-200 kapal tanker sempat tertahan di jalur distribusi energi akibat situasi keamanan kawasan. Kondisi ini menunjukkan kerentanan negara pengimpor energi seperti Indonesia yang masih bergantung pada pasokan luar negeri, sehingga gangguan geopolitik dapat langsung memengaruhi stabilitas pasokan energi nasional.