Greenland merupakan episentrum persaingan geopolitik dan ekonomi baru bagi Amerika Serikat (AS). Berdasarkan laporan CSIS (2026), pulau ini menyimpan cadangan elemen tanah jarang (REE) terbesar ke-8 di dunia sebanyak 1,5 juta ton, dengan deposit utama di Kvanefjeld dan Tanbreez yang mampu memenuhi lebih dari 25% permintaan global masa depan. Selain itu, data geologi yang diterbitkan Jonathan Paul dalam The Conversation (2026) menunjukkan potensi energi yang luar biasa, yakni sekitar 31 miliar barel setara minyak di daratan timur laut, jumlah yang setara dengan seluruh cadangan minyak mentah Amerika Serikat. Posisinya yang strategis di antara Amerika Utara dan Arktik menjadikannya aset keamanan vital bagi AS, terutama melalui operasional Pangkalan Luar Angkasa Pituffik sebagai sistem peringatan dini serangan rudal di tengah kekhawatiran ekspansi pengaruh Rusia dan China di kawasan tersebut.
Namun, eksploitasi kekayaan alam ini menghadapi dilema lingkungan yang signifikan di tengah krisis iklim. Anne Merrild, Kepala Keberlanjutan dan Perencanaan Universitas Aalborg, mencatat bahwa lapisan es Greenland mencair dengan kecepatan drastis hingga 30 juta ton per jam. Fenomena ini secara paradoks memudahkan akses transportasi dan logistik ke sumber daya mineral yang sebelumnya terisolasi, termasuk 24 jenis bahan baku kritis dari daftar Uni Eropa yang ditemukan di sana. Meskipun hingga Januari 2026 aktivitas pertambangan baru terbatas pada operasional tambang emas di selatan dan anorthosite di Kangerlussuaq, Survei Geologi Denmark dan Greenland (GEUS) terus melakukan pemetaan intensif untuk mengonfirmasi kekayaan bawah tanah ini. Dengan permintaan energi bersih yang diprediksi melonjak empat kali lipat pada 2040, penguasaan atas sumber daya Greenland menjadi pilar strategis dalam kebijakan luar negeri AS untuk mengamankan rantai pasok global.