Gelombang Protes No Kings Menentang Otoritarianisme di Amerika Serikat

Selasa, 31 Maret 2026 | 14:22 WIB

A
Penulis: Ajeng Wirachmi | Editor: AW
Facebook X Whatsapp Telegram
URL berhasil di salin.
Gelombang Protes No Kings Menentang Otoritarianisme di Amerika Serikat
Mengenal Gerakan No Kings

Gerakan "No Kings" muncul sebagai respons masif terhadap periode kedua pemerintahan Presiden Donald Trump yang dinilai mengabaikan prinsip akuntabilitas demokrasi. Gerakan ini menegaskan bahwa Amerika Serikat dibangun di atas fondasi kedaulatan rakyat, bukan kekuasaan absolut eksekutif yang tak terkendali. Melalui slogan "No Kings", masyarakat menekankan bahwa tidak ada pemimpin yang berada di atas hukum. Kolektif ini secara aktif menggerakkan massa dengan memegang prinsip aturan 3,5 persen, yakni ambisi untuk melibatkan proporsi populasi yang cukup besar guna memicu perubahan politik yang signifikan secara nasional.

Rangkaian aksi ini mencatatkan sejarah sebagai salah satu mobilisasi massa terbesar di domestik Amerika Serikat. Protes pertama dimulai pada 14 Juni 2025 dengan 5 juta peserta, disusul aksi kedua pada 18 Oktober 2025 yang menghadirkan 7 juta orang di lebih dari 2.700 titik acara. Puncaknya terjadi pada aksi ketiga, 28 Maret 2026, yang tersebar di 3.100 lokasi demonstrasi. Uniknya, meskipun basis massa terkonsentrasi di kota-kota besar seperti Chicago dan New York, terdapat lonjakan partisipasi sebesar 40 persen di wilayah pedesaan dan negara bagian pendukung Republik, seperti Idaho dan Utah, yang menunjukkan adanya keresahan lintas garis partai.

Isu utama yang diusung mencakup penolakan terhadap otoritarianisme, penahanan imigran tanpa surat perintah, hingga manipulasi peta pemilih. Selain aspek politik, demonstran menyuarakan keresahan ekonomi terkait lonjakan harga bahan bakar dan kesenjangan akibat kebijakan yang dianggap hanya menguntungkan kelompok miliarder. Secara global, gerakan ini telah berekspansi ke wilayah Eropa dan negara dengan sistem monarki konstitusional seperti Inggris, yang mengadopsi nama "No Tyrants" atau "No Dictators". Fokus massa kini tertuju pada National Mall di Washington D.C. guna menekan institusi federal agar menghentikan keterlibatan militer dalam konflik luar negeri.

Mengenal Gerakan 'No Kings' - (Berbagai sumber/ design by NotebookLM/DATASATU)
Mengenal Gerakan 'No Kings' - (Berbagai sumber/ design by NotebookLM/DATASATU)

Data Terkait

deretan-aksi-massa-dengan-jumlah-peserta-terbesar-di-seluruh-dunia
Sosial Budaya

Deretan Aksi Massa dengan Jumlah Peserta Terbesar di Seluruh Dunia

Berbagai gerakan sosial berhasil menghimpun jutaan massa untuk menyuarakan perubahan kebijakan dan keadilan sosial.

4 hari yang lalu

konflik-timur-tengah-tekan-sektor-ekonomi-transportasi-paling-terdampak
Ekonomi

Konflik Timur Tengah Tekan Sektor Ekonomi, Transportasi Paling Terdampak

Eskalasi AS-Israel-Iran ganggu jalur pupuk dunia dan logistik. Harga minyak sentuh US$ 100/barel, biaya produksi dan pangan global ikut terdampak.

4 hari yang lalu

dinamika-negosiasi-nuklir-dan-eskalasi-krisis-energi-iran-amerika-serikat
Internasional

Dinamika Negosiasi Nuklir dan Eskalasi Krisis Energi Iran-Amerika Serikat

Rangkaian negosiasi antara Iran dan AS sejak April 2025-Maret 2026 menunjukkan fluktuasi ketegangan yang signifikan.

26 Mar 2026

as-tawarkan-proposal-15-poin-untuk-akhiri-konflik-dengan-iran
Internasional

AS Tawarkan Proposal 15 Poin untuk Akhiri Konflik dengan Iran

Donald Trump mengonfirmasi adanya kemajuan signifikan dalam negosiasi dengan Iran guna mengakhiri permusuhan di Timur Tengah.

25 Mar 2026

konflik-timur-tengah-ratusan-korban-jiwa-dan-kerusakan-bangunan
Internasional

Konflik Timur Tengah Ratusan Korban Jiwa dan Kerusakan Bangunan

Konflik bersenjata di Timur Tengah hingga 4 Maret 2026 telah menelan sedikitnya ratusan korban jiwa dan kerusakan bangunan hingga senjata militer.

10 Mar 2026

gelombang-protes-global-respons-serangan-terhadap-tokoh-penting-iran
Internasional

Gelombang Protes Global Respons Serangan Terhadap Tokoh Penting Iran

Aksi solidaritas dan gelombang protes pecah di berbagai belahan dunia sebagai respons atas ketegangan perang di Timur Tengah.

7 Mar 2026