Sejumlah fasilitas jembatan penyeberangan orang (JPO) di Jakarta terus mengalami penataan ulang demi estetika dan kenyamanan pejalan kaki. Evaluasi ini menyasar jembatan yang dinilai tidak ramah disabilitas, menutupi pemandangan cagar budaya, hingga memicu tumpang tindih ruang jalan.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah keberadaan dua JPO yang berdiri berdampingan di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Kedua jembatan tersebut tidak terhubung karena adanya perbedaan tinggi struktur yang cukup mencolok. Selain itu, tangga JPO lama tergolong curam serta belum dilengkapi lift bagi lansia dan penyandang disabilitas. “Pemerintah Jakarta memutuskan untuk menghilangkan salah satu JPO, yaitu yang telah lebih lama terbangun,” ujar Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dalam akun Instagramnya.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menginstruksikan pembongkaran JPO lama pada Agustus 2026 setelah proses lelang aset daerah rampung, dengan target pengerjaan selesai sekitar September hingga Oktober 2026. Seluruh arus penyeberangan nantinya dialihkan penuh ke JPO integrasi baru yang sudah terhubung dengan halte dan stasiun.
Langkah serupa pernah dilakukan di kawasan Bundaran Hotel Indonesia pada akhir Juli 2018. JPO di depan Plaza Indonesia dibongkar total karena konstruksinya menutupi pandangan ke arah Monumen Selamat Datang. Usai jembatan diturunkan, warga beralih menggunakan fasilitas penyeberangan di permukaan jalan (pelican crossing) serta jalur terowongan bawah tanah yang terhubung ke stasiun MRT.
Sementara itu, dinamika penataan juga terjadi pada JPO Sarinah di Jalan MH Thamrin. Jembatan bersejarah ini sempat dibongkar pada 2022 agar pemandangan gedung-gedung bernilai sejarah di sekitarnya tidak terhalang. Kendati demikian, Pemprov DKI Jakarta berencana membangun kembali fasilitas JPO tersebut pada 2026 sebagai opsi alternatif penyeberangan atas, tanpa menghapus fasilitas pelican crossing yang sudah aktif digunakan warga.