Jakarta kembali menghadapi tantangan serius pada stabilitas infrastruktur energinya setelah serangkaian peristiwa mati lampu masif melanda Ibu Kota dalam kurun waktu hampir satu dekade terakhir. Insiden terbaru yang terjadi pada Kamis, 23 April 2026, menjadi sorotan utama setelah listrik mulai padam sejak pukul 10.25 WIB, mencakup wilayah luas mulai dari Utan Kayu, Thamrin, Kuningan, hingga merembet ke kota penyangga seperti Tangerang dan Bekasi. Melansir Berita Satu, Senior Manager Komunikasi dan Umum PLN UID Jakarta Raya, Haris Andika, mengonfirmasi bahwa gangguan ini bersumber dari masalah suplai pada sistem di sejumlah Gardu Induk (GI) yang mengharuskan adanya pengaturan manajemen beban secara darurat. Dampaknya tidak main-main, layanan publik seperti halte TransJakarta CSW mengalami lumpuh operasional pada perangkat pembayaran, sementara fasilitas vertikal seperti lift dan eskalator di gedung-gedung tinggi berhenti berfungsi seketika. PLN pun langsung mengerahkan seluruh personel teknis untuk melakukan penormalan secara bertahap, baik melalui sistem kontrol jarak jauh maupun penanganan fisik di lapangan, sembari terus menelusuri akar penyebab gangguan sistemik tersebut demi memastikan kestabilan pasokan kembali terjaga.
Menilik sejarah ke belakang, kerentanan sistem kelistrikan di Jakarta dan wilayah sekitarnya bukanlah fenomena baru, namun frekuensi dan skalanya kerap memicu kekhawatiran publik yang mendalam. Sebelum insiden 23 April ini, pada tanggal 9 April 2026, Jakarta juga sempat diguncang pemadaman yang mengakibatkan seluruh stasiun layang (elevated) MRT Jakarta mengalami kondisi blackout total. Peristiwa tersebut memaksa operasional transportasi modern kebanggaan warga ibu kota itu terhenti sementara karena pasokan listrik dari sisi Gardu Induk PLN menuju sistem CSW terputus.
Jika ditarik lebih jauh, memori publik tentu masih segar dengan peristiwa total blackout pada 4 Agustus 2019 yang melumpuhkan Jakarta, Banten, hingga Jawa Tengah selama hampir 2 hari penuh. Berdasarkan penulusuran Tim Riset DATASATU melalui pemantauan media, saat itu, kerusakan transmisi pada sirkit utara Ungaran-Pemalang 500 kV memicu efek domino yang mengakibatkan kerugian ekonomi hingga triliunan rupiah, evakuasi penumpang MRT di bawah tanah, serta matinya jaringan telekomunikasi secara total. Sementara itu, pada awal Januari 2018, gangguan pada Subsistem Muara Karang-Gandul juga sempat melumpuhkan layanan KRL, mempertegas bahwa ketergantungan Jakarta terhadap Gardu Induk tertentu sangatlah krusial bagi mobilitas jutaan orang setiap harinya.