Nilai ekonomi kurban nasional masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Laporan Institute for Demographic and Affluence Studies atau IDEAS berjudul “Peta Ekonomi Kurban 2026” mencatat, potensi nilai ekonomi kurban di Jawa mencapai Rp 21,42 triliun atau berkontribusi hampir 80% terhadap total nasional. Nilai tersebut didominasi kurban sapi yang mencapai Rp 16,49 triliun.
Selain menjadi pusat nilai ekonomi kurban, wilayah Jawa juga mencatat surplus daging kurban terbesar, terutama di kawasan dengan kapasitas ekonomi rumah tangga yang lebih besar serta basis kelas menengah muslim yang kuat. IDEAS mencatat daerah dengan surplus tertinggi antara lain Kota Jakarta Utara sebesar 3.879,25 ton, Kota Depok sebesar 3.644,94 ton, serta Kabupaten Sleman sebesar 3.639,37 ton.
Setelah Jawa, wilayah Sumatera menjadi kontributor terbesar kedua dengan pangsa nasional sebesar 9,57% atau senilai Rp 2,57 triliun. Sementara itu, Sulawesi dan Kalimantan mencatat pangsa masing-masing sebesar 4,98% dan 3,70%.
IDEAS mengungkapkan potensi nilai ekonomi kurban di Sulawesi mencapai Rp 1,34 triliun yang terdiri dari nilai sapi sebesar Rp 0,76 triliun serta kambing dan domba sebesar Rp 0,58 triliun. Adapun nilai ekonomi kurban di Kalimantan diproyeksikan mencapai Rp 0,99 triliun atau setara 3,70% pangsa nasional.
Di sisi lain, wilayah dengan populasi muslim minoritas seperti Bali dan Nusa Tenggara, Papua, serta Maluku mencatat pangsa nasional di bawah 2%. IDEAS mencatat nilai ekonomi kurban di Bali dan Nusa Tenggara mencapai Rp 0,42 triliun, sedangkan Papua sebesar Rp 0,11 triliun. Sementara itu, Maluku menjadi wilayah dengan nilai ekonomi kurban terendah, yakni Rp 0,03 triliun atau hanya berkontribusi 0,10% terhadap total nasional.