Potensi ekonomi kurban nasional pada 2026 diperkirakan sedikit melemah. Institute for Demographic and Affluence Studies atau IDEAS dalam laporan yang bertajuk “Peta Ekonomi Kurban 2026” memproyeksikan nilai ekonomi kurban pada 2026 mencapai Rp 26,89 triliun atau turun 0,77% yoy dibanding 2025 sebesar Rp 27,10 triliun.
Selain itu, jumlah rumah tangga shahibul qurban diperkirakan menurun dari 1,92 juta rumah tangga pada 2025 menjadi 1,90 juta rumah tangga pada 2026. Menurut IDEAS, partisipasi rumah tangga pekurban memang masih tergolong besar sebagai basis permintaan utama, namun penurunan tipis sekitar 1% dinilai menjadi sinyal adanya perlambatan ekonomi masyarakat.
Data IDEAS juga menunjukkan total hewan kurban pada 2026 diproyeksikan turun 0,63% yoy menjadi 1,59 juta ekor. Penurunan tersebut terjadi seiring turunnya jumlah sapi kurban sebesar 2,02% yoy menjadi 493,18 ribu ekor serta kambing kurban sebesar 0,92% yoy menjadi 1,09 juta ekor.
Meski volume sapi kurban menurun, nilai ekonomi sapi justru meningkat 3,76% yoy dari Rp 19,15 triliun pada 2025 menjadi Rp 19,87 triliun pada 2026 akibat kenaikan harga sapi. Sementara itu, nilai ekonomi kambing dan domba turun signifikan sebesar 11,70% yoy menjadi Rp 7,02 triliun pada 2026.
IDEAS juga mencatat hampir seluruh kategori bobot hewan kurban mengalami penurunan, terutama kambing premium berbobot tinggi. Namun, kategori kambing dan domba berbobot 40 kilogram serta 20 kilogram justru menunjukkan peningkatan. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya perubahan pola pembelian pekurban antarsegmen, baik dari sisi pilihan bobot hewan maupun penyesuaian terhadap perkembangan harga kambing di pasar.