Penyebaran wabah virus Ebola jenis Bundibugyo di kawasan Afrika kian mengkhawatirkan dengan Republik Demokratik Kongo (DRC) sebagai pusat episentrum. Hingga Mei 2026, data PBB mencatat bahwa otoritas kesehatan setempat mengungkap adanya 246 kasus suspek dengan angka kematian mencapai 80 jiwa di wilayah DRC. Situasi di provinsi Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan tersebut dilaporkan memburuk akibat konflik bersenjata, ketidakpercayaan warga lokal, hingga aksi pembakaran fasilitas medis. Guna menekan penularan, pemerintah setempat kini memberlakukan pembatasan ketat terhadap seluruh aktivitas sosial dan olahraga yang melibatkan kerumunan massa.
Dampak buruk wabah ini mulai meluas ke negara tetangga, salah satunya Uganda yang kini ditetapkan berstatus risiko tinggi. Sejauh ini, Uganda telah mengonfirmasi 5 kasus penularan dengan 1 korban jiwa, yang melibatkan tenaga medis serta warga Kongo yang melintasi perbatasan. Demi memutus rantai penularan lintas batas, pemerintah Uganda mengambil langkah cepat dengan menghentikan operasional seluruh transportasi umum menuju DRC. Sementara itu, 10 negara Afrika lainnya, termasuk Zambia dan Rwanda, kini berada dalam posisi siaga dan mendapatkan alokasi dana pencegahan bersama sebesar USD54 juta dari Africa CDC.
Masih melansir data di laman resmi PBB, kondisi ini kian pelik mengingat fakta bahwa meskipun wabah tersebut telah berlangsung hampir 20 tahun, hingga kini masih belum ada vaksin atau terapi medis yang disetujui secara resmi untuk virus Bundibugyo. Menanggapi situasi kritis tersebut, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan prioritas penggunaan 2 antibodi dalam uji klinis. Selain itu, evaluasi terhadap antivirus obeldesivir juga tengah berjalan sebagai langkah pengobatan darurat bagi warga yang masuk dalam kategori kontak berisiko tinggi di lapangan.
Sebagai bentuk respons cepat, badan kesehatan PBB sedang meningkatkan operasi darurat di berbagai zona terdampak. Langkah penanganan komprehensif mulai digencarkan, meliputi pelacakan kontak erat, pendirian pusat perawatan intensif, penguatan kapasitas laboratorium, hingga manajemen kasus infeksi. Guna memastikan seluruh program penyelamatan dan keterlibatan masyarakat ini berjalan optimal, dana sebesar USD 3,9 juta telah dicairkan dari Dana Darurat WHO untuk membiayai operasi di garda depan.