Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) bersama Kementerian Perhubungan memaparkan sederet fakta mengejutkan mengenai kecelakaan beruntun yang melibatkan dua rangkaian KRL Commuter Line, Kereta Jarak Jauh KA Argo Bromo Anggrek, dan sebuah armada taksi hijau di dekat Stasiun Bekasi Timur. Insiden tragis yang terjadi pada Senin malam, 27 April 2026 tersebut dilaporkan merenggut 16 korban jiwa yang seluruhnya merupakan penumpang perempuan di gerbong khusus wanita, serta mengakibatkan lebih dari 80 orang luka-luka. KNKT menegaskan bahwa proses investigasi menyeluruh berbasis analisis digital atas manajemen keselamatan operasional kereta masih terus berjalan dan membutuhkan waktu sekitar 3 bulan untuk mencapai kesimpulan akhir.
Berdasarkan hasil unduhan data onboard armada taksi, KNKT mendeteksi adanya kesalahan fatal pengoperasian transmisi otomatis oleh pengemudi saat kendaraan meluncur ke arah rel sebidang Ampera hingga akhirnya mogok. Pengemudi tanpa sengaja memindahkan persneling ke posisi N (Netral) dan sempat menginjak gas hingga 51% tanpa membuahkan hasil, sebelum akhirnya memindahkan tuas ke posisi P (Parkir). Tindakan ini membuat sistem mobil terkunci otomatis di tengah rel dan memicu tabrakan awal dengan KRL KA 5181B pada pukul 20.48 WIB. Evaluasi internal menunjukkan adanya kelemahan dalam standar pelatihan manajemen taksi yang tidak membekali pengemudi dengan pemahaman teknis mitigasi sistem saat kendaraan mengalami kendala darurat.
Kecelakaan maut susulan yang terjadi hanya berselang 3 menit 43 detik setelah insiden taksi tersebut dinilai sebagai situasi yang seharusnya dapat dicegah. Kerumunan warga yang memadati area rel pasca-temperan taksi membuat KRL KA 5568A arah Cikarang berinisiatif melakukan perhentian pendek. Tragisnya, sistem persinyalan hilir dari Stasiun Bekasi masih terdeteksi berwarna hijau atau aman, sehingga KA Argo Bromo Anggrek tetap melaju konstan dengan kecepatan 108 km/jam. Meski masinis kereta jarak jauh tersebut dilaporkan telah mengaktifkan prosedur pengereman darurat sejak jarak 1,3 kilometer sebelum titik benturan, tabrakan hebat pada pukul 20.52 WIB tetap tidak terhindarkan akibat terlambatnya pembaruan indikator sinyal bahaya dan kendala instruksi darurat dari Pusat Pengendali.