Dalam rentang satu tahun sejak 20 Oktober 2024, sejumlah alutsista strategis mulai berdatangan dan langsung memperkuat kemampuan tempur TNI di tiga matra. Pengadaan ini menandai fase awal modernisasi pertahanan pada periode pemerintahan baru. Mulai dari kapal kombatan kelas berat, rudal balistik jarak menengah, hingga drone pengintai berteknologi tinggi turut masuk dalam daftar alutsista yang sudah diterima.
Di matra laut, KRI Brawijaya-320 resmi memperkuat Koarmada II pada September 2025 dan kini menjadi fregat tercanggih Indonesia, lengkap dengan sistem rudal Aster 30 dan perangkat peperangan elektronik berstandar NATO. Sementara TNI AD menerima rudal balistik KHAN—rudal modern pertama di Asia Tenggara—yang kini ditempatkan di Yonarmed 18 Tenggarong. Di udara, TNI AU mulai mengoperasikan drone MALE Anka, yang mampu terbang 30 jam nonstop dan akan digunakan untuk mengawasi wilayah strategis seperti Natuna dan Kalimantan Barat.
Selain alutsista yang sudah tiba, sejumlah pengadaan besar juga dijadwalkan datang dalam 1–3 tahun ke depan. Jet tempur Dassault Rafale mulai tiba pada 2026 sebagai bagian dari kontrak 42 unit senilai US$8,1 miliar. Indonesia juga menunggu kedatangan pesawat angkut berat Airbus A-400M, tambahan T-50i untuk meningkatkan pelatihan tempur, serta kapal patroli besar KRI Prabu Siliwangi-321. Tidak hanya itu, dua kapal selam Scorpene Evolved tengah dibangun melalui skema transfer teknologi di PT PAL.
Di lini udara, modernisasi besar juga tampak dari rencana pengadaan jet tempur generasi terbaru. Indonesia bekerja sama dengan Turki untuk membawa masuk 48 unit KAAN, pesawat stealth generasi kelima. Pemerintah juga menyetujui pembelian jet J-10C buatan China senilai US$9 miliar, memperkuat jajaran jet tempur multirole bersama Rafale. Dengan seluruh proyek ini, postur TNI diproyeksikan meningkat signifikan dan membawa Indonesia ke level kemampuan pertahanan yang lebih modern.