Indonesia dan Singapura terus memperkuat hubungan bilateral melalui kerja sama di bidang lingkungan hidup, pertahanan, ekonomi, investasi, sumber daya manusia, transportasi, agribisnis, energi, dan teknologi. Pada Juni 2026, kedua negara memperkuat kolaborasi lingkungan hidup yang mencakup pengembangan ekonomi sirkular, pengelolaan limbah, pemeliharaan kualitas air dan udara, serta pengendalian polusi lintas batas. Kerja sama juga dilakukan melalui mekanisme kredit karbon berdasarkan Pasal 6 Persetujuan Paris, antara lain melalui penguatan kapasitas, riset bersama, pertukaran tenaga ahli, dan pengembangan proyek percontohan yang mengedepankan integritas lingkungan. Sementara itu, pada Mei 2026, kedua negara memperkuat kerja sama pertahanan melalui dialog bilateral, pendidikan dan pelatihan militer, serta latihan bersama dengan mengacu pada Defence Cooperation Agreement (DCA).
Dalam bidang ekonomi dan investasi, kerja sama diarahkan untuk mengembangkan kawasan industri, memperkuat konektivitas ekonomi, dan menciptakan lapangan kerja, terutama di Batam, Bintan, dan Karimun (BBK) serta sejumlah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Pada 2025, realisasi investasi tercatat sebesar US$4,3 miliar di Batam, US$1,32 miliar di Karimun, serta US$85,3 juta di Bintan dan Tanjungpinang. Pengembangan kawasan strategis juga mencakup KEK Galang Batang di Bintan, yang berfokus pada pengolahan bauksit dan logistik, dengan investasi sekitar US$2,19 miliar dan penyerapan lebih dari 15.500 tenaga kerja. KEK Nongsa di Batam, yang dikembangkan sebagai pusat ekonomi digital, mencatat investasi sekitar US$762 juta dengan penyerapan lebih dari 6.900 tenaga kerja. Selain itu, Batam Aero Technic merealisasikan investasi sekitar US$80 juta di bidang maintenance, repair, and overhaul (MRO) pesawat dengan penyerapan lebih dari 4.200 tenaga kerja, sedangkan KEK Tanjung Sauh mencatat nilai investasi sekitar US$366 juta.
Pengembangan sumber daya manusia turut menjadi bagian dari kemitraan kedua negara melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi, lembaga pendidikan vokasi, dan kementerian terkait, serta pertukaran program pelatihan. Inisiatif seperti Tech dan Youth Mobility Programme diarahkan untuk meningkatkan keterampilan, memperluas pengalaman lintas negara, dan memperkuat konektivitas talenta digital. Di bidang transportasi, konektivitas udara Indonesia–Singapura mencakup 17 rute kota, termasuk pembukaan rute penerbangan Scoot ke Belitung dan Pontianak. Kedua negara juga menjajaki penguatan kerja sama antara Garuda Indonesia dan Singapore Airlines dalam kerangka Air Service Agreement bilateral untuk meningkatkan konektivitas penerbangan.
Kerja sama agribisnis mencakup pengembangan petani muda, perdagangan komoditas pertanian, dan pertukaran teknologi. Melalui Young Farmers Development Programme (YFDP) yang diselenggarakan Kementerian Pertanian, sebanyak 13 petani muda dan dua aparatur sipil negara (ASN) mengikuti pelatihan di Singapura pada 7–13 Juni 2026, dengan seluruh biaya program, termasuk akomodasi, tiket penerbangan, dan pelatihan, ditanggung pemerintah Singapura. Pada 2025, nilai perdagangan bilateral produk pertanian mencapai sekitar US$849,6 juta, terdiri atas ekspor Indonesia ke Singapura sebesar US$482,9 juta dan impor dari Singapura sebesar US$366,7 juta. Perdagangan tersebut mencakup komoditas seperti ayam, telur, dan minyak sawit, serta kerja sama pertukaran teknologi pertanian.
Di sektor energi, kolaborasi kedua negara mencakup pengembangan energi terbarukan, perdagangan listrik lintas batas, dan perdagangan energi konvensional. Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) bekerja sama dengan CRecTech Singapore untuk menjajaki fasilitas percontohan pengolahan biogas menjadi biometanol di KEK Sei Mangkei, Sumatra Utara, dengan memanfaatkan teknologi CRecREF™. Di sisi lain, Sembcorp bersama PT Sumber Energi Surya Nusantara (SESNA) mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 200 MW yang dilengkapi penyimpanan energi baterai sebesar 80 MWh di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah, dengan nilai investasi sekitar US$210 juta. Indonesia dan Singapura juga mengembangkan perdagangan listrik lintas batas berbasis energi terbarukan, kawasan industri hijau, serta teknologi carbon capture and storage (CCS). Namun, mekanisme penetapan harga listrik masih menjadi salah satu aspek yang perlu disepakati agar manfaat ekonomi dapat diperoleh secara seimbang oleh kedua negara.
Dalam perdagangan gas bumi, Indonesia memasok gas ke Singapura melalui jaringan pipa dengan volume ekspor yang dilaporkan mencapai 409,55 BBTUD. Pada 24 Oktober 2026, pemerintah mulai memangkas pasokan gas ke Singapura sebesar 31 BBTUD untuk meningkatkan ketersediaan gas bagi kebutuhan domestik. Sementara itu, Singapura disebut memasok sekitar 62% kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) Indonesia, sehingga perdagangan produk minyak juga menjadi bagian penting dalam hubungan energi kedua negara. Pada sektor teknologi, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bersama Singapore Business Federation (SBF) memperkuat kerja sama untuk membantu usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memperluas ekspor melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).