Kualitas demokrasi di kawasan Asia Tenggara menunjukkan tren yang memprihatinkan. Laporan terbaru Democracy Report 2026 dari lembaga riset internasional Varieties of Democracy (V-Dem) mengungkapkan bahwa sebagian besar negara di kawasan ini mencatat skor Indeks Demokrasi Liberal (LDI) yang tergolong rendah.
Berdasarkan data grafik tersebut, Timor Leste memimpin kawasan dengan skor tertinggi mencapai 0,55. Angka ini terpaut cukup jauh meninggalkan negara-negara tetangganya. Di posisi kedua dan ketiga bertengger Malaysia dan Singapura yang berbagi skor sama di angka 0,36, disusul Thailand dengan torehan 0,31.
Indonesia sendiri berada di peringkat kelima dengan skor 0,30, tepat di atas Filipina yang mengantongi nilai 0,29. Sementara itu, posisi terbawah ditempati oleh Laos (0,11), Vietnam (0,10), Kamboja (0,05), serta Myanmar yang terpuruk di dasar klasemen dengan skor hanya 0,02 menyusul situasi politik pascakudeta militer.
Laporan V-Dem menyoroti bahwa hingga akhir tahun 2025, gelombang kemunduran demokrasi melanda skala global. Di wilayah Asia Timur dan Pasifik, tingkat kebebasan yang dirasakan oleh rata-rata warga terus menurun perlahan sejak pertengahan era 2000-an, hingga kini kembali setara dengan kondisi tahun 1998. Kontras terlihat jelas di mana negara berwilayah kecil seperti Timor Leste dan Fiji justru mencatatkan perbaikan iklim demokrasi. Sebaliknya, negara besar berpenduduk padat seperti Indonesia dan Filipina kian kehilangan ciri demokratisnya.
Secara demografis di Asia Timur dan Pasifik, hanya 11% penduduk yang menikmati kehidupan di negara demokratis, terbagi atas 9% di demokrasi liberal seperti Australia, Jepang, dan Selandia Baru, serta 2% di demokrasi elektoral seperti Timor Leste dan Vanuatu.
Sebanyak 12% populasi kawasan berada di zona abu-abu otokrasi yang diwakili oleh Indonesia, dan 9% hidup di sistem otokrasi elektoral seperti Kamboja, Filipina, dan Thailand. Porsi terbesar, yakni 68% penduduk kawasan, kini bernaung di bawah rezim otokrasi tertutup seperti China, Myanmar, dan Korea Utara.
Riset V-Dem ini disusun berbasiskan data global yang memuat lebih dari 32 juta titik data dari 202 negara dan wilayah. Pengukuran komprehensif tersebut melibatkan lebih dari 4.200 akademisi dan pakar independen dunia dengan menilai lebih dari 600 indikator atribut demokrasi.