Jakarta, 22 Oktober 2026: Dana Moneter Internasional (IMF) merilis World Economic Outlook edisi Oktober 2026 dengan tema “Resilience Under Strain, Urgent Choices”. Laporan ini memotret ekonomi dunia yang terbelah. Di satu sisi ada negara yang tertolong lonjakan investasi kecerdasan buatan (AI) dan ekspor teknologi. Di sisi lain ada negara yang terbebani biaya impor energi akibat perang di Timur Tengah.
Gambaran Global
IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 3,1 persen pada 2026 dan 3,4 persen pada 2027. Inflasi global diperkirakan naik ke 4,7 persen pada 2026 sebelum turun ke 4,1 persen pada 2027. Kenaikan ini terutama didorong harga energi dan pangan dan ledakan investasi AI.
Asumsi harga minyak dalam laporan ini cukup tinggi, yaitu rata-rata US$95,74 per barel pada 2026. Pada 2025 harga masih berada di angka US$67,74, dengan demikian terjadi kenaikan sekitar 41 persen. Menurut IMF, ekonomi dunia bertahan karena pasokan yang fleksibel, pengalihan jalur pengiriman, penggunaan cadangan persediaan, dukungan fiskal, dan intensitas energi yang lebih rendah dibanding dekade lalu. Namun IMF mengingatkan bahwa "margin penyangga" ini tidak tak terbatas.
Angka Indonesia
Proyeksi IMF untuk Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang stabil, inflasi yang naik, dan neraca transaksi berjalan yang memburuk.
| Indikator | 2025 | 2026 (proyeksi) | 2027 (proyeksi) |
|---|---|---|---|
| Pertumbuhan PDB riil (%) | 5,1 | 5,1 | 5,1 |
| Inflasi Harga Konsumen (%) | 1,9 | 3,3 | 2,8 |
| Transaksi berjalan (% PDB) | –0,1 | –1,6 | –1,0 |
| Tingkat pengangguran (%) | 4,9 | 4,7 | 4,7 |
Sumber: IMF, WEO Oktober 2026
Data ini menunjukkan, secara pertumbuhan, ekonomi Indonesia diproyeksikan tumbuh 5,1 persen pada 2025, 2026, dan 2027. Angka ini jauh di atas rata-rata dunia dan sedikit di atas rata-rata ASEAN (Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand) yang diproyeksikan 4,4 persen pada 2026 dan 4,3 persen pada 2027. Sementara inflasi diproyeksikan naik dari 1,9 persen pada 2025 menjadi 3,3 persen pada 2026, lalu turun ke 2,8 persen pada 2027. Ini mencerminkan dampak dari kenaikan harga energi dan pangan global. Meski naik, angkanya masih jauh di bawah rata-rata global 4,7 persen dan di bawah Filipina (5,6 persen) maupun Vietnam (4,7 persen). Defisit diperkirakan melebar dari 0,1 persen PDB pada 2025 menjadi 1,6 persen pada 2026, lalu menyempit ke 1,0 persen pada 2027. Sedangkan tingkat pengangguran diproyeksikan turun tipis dari 4,9 persen menjadi 4,7 persen pada 2026–2027.
Posisi Indonesia di kawasan
Dibandingkan negara tetangga, pertumbuhan Indonesia berada posisi tengah. Proyeksi 2026 menempatkan Vietnam di posisi teratas (8,4 persen), disusul Malaysia (5,2 persen), Indonesia (5,1 persen), Filipina (3,4 persen), dan Thailand (2,1 persen). IMF mencatat bahwa beberapa ekonomi Asia Tenggara diproyeksikan diuntungkan oleh aktivitas pusat data dan siklus teknologi global, dan dalam beberapa kasus juga tertolong oleh langkah fiskal darurat yang dilakukan masing-masing negara. Secara lebih luas, kawasan Asia berkembang tumbuh 5,1 persen pada 2026, melambat tipis dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 5,6 persen (2025).