Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kian tertekan hingga menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar AS pada perdagangan Jumat (16/10) pagi. Berdasarkan data Investing, mata uang Garuda menyentuh posisi Rp 18.070 per dolar AS sekitar pukul 11.02 WIB.
Pelemahan ini memperpanjang tren penurunan rupiah yang tercatat terdepresiasi sebesar 2,21% dalam sebulan terakhir. Pada 16 September 2026 lalu, rupiah masih berada di level Rp 17.680 per dolar AS dan sempat bergerak stabil di rentang Rp 17.800 hingga Rp 17.900. Namun, tekanan jual meningkat tajam memasuki pertengahan Oktober hingga menembus rekor pelemahan baru.
Melansir laporan Investor.id (16/10), laju pelemahan ini dipicu oleh kekhawatiran para pelaku pasar menyusul rencana penyedia indeks global, MSCI, yang hendak mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia. Sentimen tersebut memicu aksi kehati-hatian investor dan menekan pasar modal di dalam negeri.
Di sisi lain, ketidakpastian pasar global ikut mendorong penguatan mata uang dolar AS, sehingga memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang.
Menghadapi tekanan tersebut, Bank Indonesia (BI) terus turun tangan melakukan intervensi di pasar keuangan demi menjaga stabilitas kurs rupiah. Selain mengawal pergerakan valuta asing, bank sentral juga memperkuat pengelolaan ketersediaan dana di pasar serta berkoordinasi erat dengan para pelaku perbankan guna menahan pelemahan nilai tukar agar tidak merosot lebih dalam.