Perekonomian global belum sepenuhnya keluar dari bayang-bayang turbulensi. Laporan terbaru Global Economic Policy Uncertainty (GEPU) Index yang dirilis oleh lembaga riset Economic Policy Uncertainty mencatat, tingkat ketidakpastian kebijakan ekonomi dunia konsisten bertengger di level tinggi sepanjang periode 2020 hingga Juli 2026, jauh melampaui rata-rata normal historisnya.
Dalam kurun 5 tahun terakhir, tekanan ekonomi global memperlihatkan eskalasi nyata. Rata-rata tahunan GEPU berbasis paritas daya beli (PPP-adjusted) melonjak 24,8%, dari posisi 307,18 pada 2020 menjadi 383,35 pada 2025. Puncak volatilitas terjadi pada 2025 ketika indeks sempat menyentuh rekor ekstrem di angka 575,3. Memasuki pertengahan 2026, tensi ketidakpastian mulai melandai ke level rata-rata 338,80. Bahkan secara tahunan (year-on-year), posisi indeks pada Juli 2026 yang berada di angka 236,26 terpangkas 38,17% dibandingkan Juli 2025 yang bertengger di level 382,12.
Kendati menunjukkan tren penurunan bulanan, angka tersebut menegaskan situasi global masih rentan. Indeks GEPU menggunakan angka 100 sebagai garis dasar (baseline) kondisi normal. Dengan rata-rata tahunan yang terus bertahan di rentang 200 hingga di atas 380, tingkat ketidakpastian dunia praktis berada 2 hingga hampir 4 kali lipat di atas batas wajar. Rangkaian guncangan ini dipicu oleh efek lanjutan pandemi pada awal 2020, kemacetan rantai pasok logistik, perang di Eropa, siklus kenaikan suku bunga acuan global, hingga memanasnya perang tarif dan fragmentasi geoekonomi antarnegara adidaya.
Indeks GEPU sendiri merupakan indikator bulanan yang dirilis sejak Januari 1997 untuk memetakan arah risiko kebijakan ekonomi internasional. Pengukuran ini merangkum data dari 18 negara kekuatan ekonomi utama dunia, yakni Amerika Serikat, Australia, Brasil, Cile, China, India, Inggris, Irlandia, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Korea Selatan, Prancis, Rusia, Spanyol, Swedia, dan Yunani.
Indeks ini hadir dalam dua versi, yakni berbasis nilai tukar pasar serta paritas daya beli (PPP). Ke-18 negara yang dipantau merepresentasikan sekitar 67% dari total output ekonomi dunia berbasis PPP, serta mencakup hampir 75% PDB global berdasarkan nilai tukar pasar per 2024. Cakupan ekonomi yang dominan ini menjadikan GEPU sebagai barometer kredibel untuk mengukur seberapa rapuh stabilitas kebijakan dan perekonomian dunia saat ini.