Kondisi dunia saat ini diselimuti ketidakpastian tinggi akibat persaingan antarnegara yang kian memanas. Dalam laporan survei risiko global terbarunya, lembaga internasional World Economic Forum (WEF) meminta para responden memilih satu risiko yang paling berpotensi memicu krisis besar dalam skala global pada 2026. Hasilnya, hampir sepertiga responden menilai masalah geopolitik dan perang ekonomi sebagai ancaman yang paling berbahaya.
Konfrontasi geoekonomi atau perang ekonomi antarnegara kini melesat dua peringkat dibanding tahun lalu dan menempati posisi puncak dengan angka 18%. Isu ini menggeser konflik bersenjata antarnegara ke peringkat kedua yang dipilih oleh 14% responden. Temuan tersebut menandakan bahwa ketidakstabilan relasi politik dan saling jegal kekuatan ekonomi antarnegara menjadi pemicu utama ketidakpastian dunia.
Kekhawatiran itu sejalan dengan proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF). Menurut laporan IMF, aktivitas global kini menghadapi ujian berat akibat meluasnya hambatan dagang dan pecahnya konflik di Timur Tengah. Jika konflik berlangsung terbatas, pertumbuhan ekonomi dunia diproyeksikan melambat menjadi 3,1% pada 2026 dan 3,2% pada 2027, yang diiringi kenaikan inflasi terutama di negara-negara berkembang. IMF memperingatkan bahwa perang yang berkepanjangan dan fragmentasi geopolitik dapat melemahkan pertumbuhan ekonomi serta memicu gejolak pasar keuangan.
Selain tensi politik dan perang ekonomi, ketidakpastian global juga dipicu oleh lonjakan risiko teknologi. Masalah misinformasi dan disinformasi berada di peringkat kelima (7%), disusul kekhawatiran dampak buruk kecerdasan buatan (AI) sebesar 4% dan kerentanan keamanan siber sebesar 3%. Ancaman cuaca ekstrem (8%) dan perpecahan sosial (7%) kian melengkapi daftar risiko yang menekan stabilitas dunia saat ini.