Konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran yang pecah pada 28 Februari 2026 hingga kini belum berakhir. AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang kemudian dibalas Iran dengan serangan ke sejumlah wilayah di kawasan. Eskalasi konflik tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dan distribusi energi global, terutama karena kawasan tersebut mencakup jalur strategis perdagangan minyak, termasuk Selat Hormuz.
Dampak konflik terhadap pasar minyak mulai terlihat pada awal Maret 2026. Pada 3 Maret 2026, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mencapai US$71,23 per barel, sedangkan Brent mencapai US$77,74 per barel. Harga tersebut meningkat dibandingkan 27 Februari 2026, ketika WTI berada di US$67,02 per barel dan Brent US$72,48 per barel. Dengan demikian, dalam periode tersebut harga WTI meningkat 6,28%, sementara Brent naik 7,26%.
Konflik kembali memanas pada September 2026. Pada Rabu (9/9/2026) waktu setempat, militer Iran dilaporkan meluncurkan rudal dan drone yang diarahkan ke kapal dan tanker minyak Amerika Serikat sebagai respons terhadap serangan terbaru AS. Eskalasi tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dan jalur distribusi minyak di kawasan Timur Tengah.
Seiring meningkatnya ketegangan geopolitik, harga minyak dunia kembali melonjak. Hingga Selasa (15/9) pukul 13.49 WIB, harga WTI mencapai US$103,28 per barel, atau melonjak 80,18% secara year-to-date (ytd). Sementara itu, harga Brent mencapai US$107,26 per barel, atau naik 76,56% secara ytd pada periode yang sama. Kenaikan tersebut menunjukkan meningkatnya premi risiko di pasar minyak akibat ketidakpastian geopolitik dan potensi gangguan pasokan maupun distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah.