Harga emas spot terus bergerak melemah sepanjang Maret hingga Juni 2026. Pada Senin (8/6/2026) pukul 10:15 WIB, harga emas tercatat sebesar US$4.305,23 per troy ounce, turun 19,19% dibandingkan posisi 2 Maret 2026 yang mencapai US$5.327,42 per troy ounce. Koreksi ini menunjukkan bahwa minat investor terhadap aset safe haven mulai berkurang setelah sebelumnya melonjak akibat konflik di Timur Tengah yang pecah pada akhir Februari 2026.
Pelemahan harga emas terjadi meski konflik di kawasan tersebut masih berlanjut. Televisi pemerintah Iran melaporkan sejumlah ledakan di Teheran, Tabriz, dan Isfahan pada Senin pagi. Di sisi lain, militer Israel menyatakan bahwa angkatan udaranya telah melancarkan serangan terhadap sejumlah target di wilayah Iran bagian barat dan tengah. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa ketegangan antara kedua negara masih berlangsung dan belum sepenuhnya mereda.
Meski demikian, pasar tampaknya tidak lagi merespons konflik tersebut dengan tingkat kepanikan yang sama seperti pada fase awal perang. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa gencatan senjata yang berlaku sejak 7 April 2026 masih berjalan. Menurutnya, gencatan senjata tidak berarti penghentian pertempuran secara total, melainkan penurunan intensitas serangan. Pernyataan tersebut turut memperkuat persepsi pasar bahwa risiko geopolitik masih terkendali meskipun bentrokan sporadis tetap terjadi.
Dilansir Investor Daily, secara historis emas dikenal sebagai aset lindung nilai yang banyak diburu saat terjadi ketidakpastian politik maupun ekonomi. Namun, pergerakan harga emas tidak hanya dipengaruhi oleh faktor geopolitik. Emas juga memiliki hubungan yang erat dengan kebijakan moneter Amerika Serikat dan pergerakan dolar AS. Dalam banyak kasus, penguatan dolar dan ekspektasi kenaikan suku bunga cenderung menekan harga emas karena meningkatkan daya tarik instrumen keuangan yang memberikan imbal hasil.
Dalam konteks konflik Timur Tengah saat ini, pasar menghadapi situasi yang kerap disebut sebagai "perang energi". Ketegangan geopolitik berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia, yang pada akhirnya meningkatkan tekanan inflasi global. Kondisi ini menciptakan dilema bagi emas. Di satu sisi, emas diburu sebagai aset aman untuk melindungi nilai kekayaan. Namun di sisi lain, meningkatnya inflasi dapat mendorong bank sentral, terutama Federal Reserve, untuk mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan menaikkannya. Akibatnya, daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil menjadi berkurang. Koreksi harga emas dalam beberapa bulan terakhir mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar dalam menimbang dua kekuatan tersebut, yakni kebutuhan akan perlindungan aset di tengah konflik geopolitik dan tekanan dari prospek kebijakan moneter yang tetap ketat.