Perekonomian Indonesia pada Semester I-2026 menunjukkan ketahanan, meski sejumlah indikator masih menghadapi tekanan. Pertumbuhan ekonomi mencapai 5,45%, sedikit di atas target APBN 2026 sebesar 5,40%. Namun, inflasi tercatat 2,88% (yoy), lebih tinggi dari asumsi APBN sebesar 2,50%.
Dari sisi fiskal, pendapatan negara terealisasi Rp1.459,4 triliun, atau sekitar 46,3% dari target APBN 2026 sebesar Rp3.153,6 triliun. Sementara itu, belanja negara mencapai Rp1.656,0 triliun, setara sekitar 43,1% dari pagu Rp3.842,7 triliun. Dengan demikian, defisit APBN mencapai Rp196,5 triliun, masih lebih rendah dibandingkan pagu defisit sebesar Rp689,1 triliun.
Tekanan lebih terlihat pada indikator pasar keuangan. Nilai tukar rupiah rata-rata/realisasi tercatat Rp17.868 per dolar AS, lebih lemah dibandingkan asumsi APBN sebesar Rp16.500 per dolar AS. Sementara itu, yield SBN tenor 10 tahun berada di 7,20%, di atas asumsi APBN sebesar 6,90%.
Pada sisi sosial, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mencapai 4,65%, masih berada di atas target bawah APBN sebesar 4,44%, tetapi lebih rendah dari batas atas 4,96%. Rasio Gini sebesar 0,368 juga lebih baik dibandingkan target bawah 0,377. Sebaliknya, tingkat kemiskinan sebesar 8,07% masih berada di atas target APBN 2026 yang berada pada kisaran 6,5–7,5%.
Secara keseluruhan, kinerja Semester I-2026 memperlihatkan kombinasi pertumbuhan ekonomi dan indikator ketimpangan yang relatif positif, tetapi tekanan nilai tukar, inflasi, serta tingkat kemiskinan masih menjadi tantangan utama menuju akhir 2026.
Keterangan:
- Pertumbuhan ekonomi (% c-to-c) serta realisasi pendapatan, belanja & defisit APBN per Semester I-2026.
- Inflasi per Juli 2026.
- TPT per Mei 2026.
- Rasio gini & tingkat kemiskinan per Maret 2026.
- Nilai tukar & yield SBN per 13 Agustus 2026 pukul 12:50 WIB.