Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencapai Rp 54,6 triliun atau setara 0,21% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) hingga 31 Januari 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 23 triliun.
Realisasi pendapatan negara hingga 31 Januari 2026 mencapai Rp 172,7 triliun atau sekitar 5,5% dari pagu APBN 2026. Capaian tersebut meningkat dibandingkan realisasi pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 157,8 triliun. Kenaikan pendapatan negara terutama didorong oleh pertumbuhan penerimaan perpajakan. Hingga Januari 2026, penerimaan pajak tercatat tumbuh 30,7% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 116,2 triliun.
Dari sisi belanja, realisasi belanja negara hingga akhir Januari 2026 mencapai Rp 227,3 triliun atau setara 5,9% dari pagu APBN 2026. Realisasi belanja ini meningkat 25,7% yoy dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menteri Keuangan menegaskan bahwa secara keseluruhan APBN 2026 tetap berfungsi sebagai shock absorber sekaligus motor penggerak perekonomian. Dengan pendapatan yang tumbuh positif, belanja yang terakselerasi, serta defisit yang tetap terkendali, APBN dinilai mampu menjaga stabilitas dan mendukung momentum pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2026.