Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia sepanjang semester I-2026 masih membukukan surplus sebesar US$ 3,58 miliar.
Capaian tersebut terutama ditopang oleh surplus perdagangan komoditas nonmigas yang mencapai US$ 19,35 miliar, sehingga tetap mampu menjaga kinerja perdagangan luar negeri Indonesia selama paruh pertama tahun ini.
Menurut BPS, komoditas lemak dan minyak hewani atau nabati menjadi penyumbang surplus terbesar dengan nilai mencapai US$ 17,55 miliar. Selain lemak dan minyak hewani atau nabati, sejumlah komoditas ekspor unggulan lainnya juga memberikan kontribusi besar terhadap surplus perdagangan.
BPS mencatat bahan bakar mineral menyumbang surplus sebesar US$ 13,61 miliar, disusul besi dan baja sebesar US$ 8,61 miliar, nikel dan produk nikel sebesar US$ 6,43 miliar, serta alas kaki sebesar US$ 3,24 miliar.
Kinerja tersebut menunjukkan bahwa surplus neraca perdagangan Indonesia masih didukung oleh daya saing komoditas ekspor nonmigas.