Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa inflasi tahunan Indonesia pada Juli 2026 terutama didorong oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, yang memberikan andil inflasi terbesar sebesar 0,87%. Tingginya kontribusi kelompok ini menunjukkan bahwa komponen pangan dan kebutuhan sehari-hari masih menjadi faktor utama pembentuk inflasi.
Kontributor terbesar berikutnya berasal dari kelompok transportasi dengan andil 0,62%, diikuti kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,61%. Sementara itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran turut menyumbang 0,25%, mencerminkan masih adanya kenaikan biaya konsumsi di sektor jasa.
Di sisi lain, sejumlah kelompok pengeluaran lainnya juga memberikan kontribusi positif terhadap inflasi, meski relatif lebih kecil. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menyumbang 0,15%, diikuti perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang masing-masing berandil 0,09%. Adapun kelompok kesehatan dan pendidikan masing-masing memberikan andil 0,06%, sedangkan kelompok pakaian dan alas kaki serta rekreasi, olahraga, dan budaya masing-masing menyumbang 0,05% dan 0,03%.
Secara keseluruhan, struktur penyumbang inflasi Juli 2026 menunjukkan bahwa tekanan harga masih didominasi oleh kelompok kebutuhan pokok dan jasa, terutama makanan, transportasi, serta perawatan pribadi, sementara kelompok pengeluaran lainnya memberikan kontribusi yang lebih terbatas terhadap laju inflasi tahunan.